<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\0755069022822139517350\46blogName\75sepoci+kopi\46publishMode\75PUBLISH_MODE_BLOGSPOT\46navbarType\75BLUE\46layoutType\75CLASSIC\46searchRoot\75http://sepocikopi.blogspot.com/search\46blogLocale\75en_US\46v\0752\46homepageUrl\75http://sepocikopi.blogspot.com/\46vt\75-6193618228055375371', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

Majalah Lesbian On Line SepociKopi

Tuesday, March 31, 2009

Setelah dua tahun bersama, akhirnya 1 April 2009, weblog SepociKopi secara resmi menjadi majalah lesbian on line Indonesia. Kami pindah ke rumah yang lebih luas dan besar, dengan alamat di www.sepocikopi.com

999 artikel, puluhan penulis lesbian, dan ratusan ribu pengunjung telah mampir sungguh suatu torehan kenangan manis yang takkan terlupakan. Kami memulainya dengan sangat sederhana, tanpa memikirkan masa depan yang terlalu utopia. Tapi visi - apapun gambarannya, memang dapat dicapai apabila kita sungguh-sungguh ingin meraihnya. Tidak ada impian yang terlalu besar untuk diri manusia yang kecil. Terima kasih atas penggabungan semangat dan gairah untuk selalu menjadi lebih baik.

Kami mengucapkan selamat tinggal untuk rumah lama yang telah melindungi kita semua dari terpaan cuaca buruk, hujan deras, dan gelegar petir. Selanjutnya, kita semua akan pindah untuk terus melakukan estafet gagasan, wawasan, dan inspirasi hidup kepada sesama sahabat lesbian. Bagai angin kita bergerak; tak terlihat tapi terasa. Tak terjaring; tapi ada. Terkadang sepoi-sepoi melenakan lalu menidurkan, terkadang mengembus kencang dan meruntuhkan dedaunan tua.

Selamat datang di era SepociKopi yang baru!
posted by SepociKopi, 9:53 PM Baca Selengkapnya!

Korupsi di LSM dan Kita

Oleh: Nuha Guwa

Mendengar nama Non Governmental Organization atau Lembaga Swadaya Masyarakat saat ini, sepertinya perasaan campur aduk. Bangga, terharu, bete, marah, kesal, curiga, mau diare, mau muntah, mau memaki. Pasalnya setelah sempat tumbuh menjamur pasca jatuhnya rezim Orde Baru, LSM-LSM ini mulai kelihatan semua boroknya. Sangat disayangkan, padahal pada masa Soeharto, LSM menjadi salah satu pilihan para oposisi tulen menggantikan fungsi perwakilan kita di pemerintahan yang tak sanggup melakukan pendampingan kepada masyarakat.

Kita memang harus menerima kenyataan pahit jika wajah LSM memang tak sekeren dan bergengsi seperti dulu lagi. LSM yang seharusnya menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan dan berperan dalam memberdayakan masyarakat marginal di berbagai sektor kini malah malah terpuruk serta mengusung misi tak jelas. Terkotori oleh berbagai penyimpangan; baik di pendirian struktur organisasi hingga visi/misi yang kemudian malah mengambang tidak karuan. Tak heran jika sekarang sering ditemukan LSM yang melakukan penyimpangan dana dan rakus kekuasaan. Seharusnya dana dihabiskan sesuai proyek yang diusulkan kepada funding, eh ujung-ujungnya berbelok ke proyek lain yang lebih mudah dan murah; bertujuan satu saja: memperkaya kantung pribadi.

Pemerasan juga bukan hal baru. LSM pendidikan misalnya, saat Ujian Nasional sudah dekat mereka mulai menjalankan aksi. Kegiatan kasak- kusuk mencari sekolah-sekolah bahkan guru-guru yang bersiap membantu meluluskan murid-muridnya langsung berada dalam perseneling tinggi. Saat menemukan murid yang membayar guru atau pegawai Dinas Pendidikan dalam mencarikan solusi “membantu” meluluskan siswa secara tidak sah tadi, ancaman pun dilayangkan para petinggi LSM ini, menggertak akan melaporkan, namun kemudian yah ujung-ujungnya malah mengambil jalan pintas berdamai dengan segepok uang.

LSM pendamping pedagang juga tak kalah seru. Setelah melakukan tugas suci mulia menjadi fasilitator bank perkreditan, mereka malah berani memotong uang pinjaman pedagang sekian persen. Padahal, para pedagang harus banting tulang agar bisa mengembalikan pembayaran kredit tersebut. Sungguh tak manusiawi! Bagaimana pula LSM pertanian? Saat menemukan pupuk atau pestisida palsu, apakah mereka melakukan jalan damai dengan distributor yang bersangkutan? Memang hanya Tuhan dan setan yang tahu.

Bagaimana pula dengan LSM lesbian? Struktur tradisional LSM yang sudah dianggap aneh di mata umum malah lebih riskan penyelewengan. LSM lesbian beresiko tinggi terhadap penyalahgunaan dana maupun jabatan. Umumnya, organisasi LSM lesbian didirikan dan dimiliki segelintir orang yang mengangkat dirinya sendiri, mempromosikan kesanggupan idealismenya, tapi jeleknya tidak harus bertanggungjawab kepada kaum yang mereka perjuangkan. Ini artinya jelas, petinggi-petinggi LSM ini tak bisa dikontrol oleh kelompok lesbian lainnya. Jadi LSM lesbian sangat menggantungkan keorganisasiannya pada tingkat “kejujuran” dan “kadar integritas personal” pendiri. Bagaimana kita bisa tahu ujung dari "kebersihan" manajemen dan kebijakannya dalam mengorganisir LSM tersebut? Sayangnya banyak kaum lesbian yang sangat polos dan percaya; mereka memandang LSM lesbian sebagai suaka suci di mana pembelaan terhadap kaum terbuang diperjuangkan.

Pertanggungjawaban dana yang akuntabilitasnya dilakukan secara internal, kemudian diaudit sendiri oleh pemberi dana (dalam hal ini: pihak luar negeri) sungguh memberikan peluang sesat untuk menciptakan sebentuk laporan yang mudah diselesaikan secara adat, tanpa kontrol ketat dari siapa pun. Dengan kata lain, seluruh komponen LSM lesbian dengan gampang menutupi koreng sendiri. Hal ini sangat riskan, “angaran-anggaran setan” serta beragam “proyek asal jadi” dapat membuat LSM lesbian ikut melakukan korupsi, mulai dari kecil-kecilan sampai besar-besaran. Tega! LSM lesbian makan dana para lesbian yang sudah terpinggirkan? Kanibal! Bejat! Aktivis busuk! Korupsi yang dilakukan bukan karena perut lapar tentunya tak bisa dimaafkan. Apalagi digunakan untuk memperkaya para aktivis.

Sebenarnya, fakta-fakta di atas bisa dimaklumi jika kita meneliti siapa saja yang terlibat dalam LSM tersebut. Coba kita lihat dengan teliti. Hampir setengah dari pekerja atau pendiri LSM lesbian ini merupakan pencari kerja yang tereliminasi alias orang-orang yang tak mendapatkan pekerjaan di bidang profesional, baik di pemerintahan maupun swasta. Alhasil para stafnya di bayar murah karena membutuhkan pekerjaan ala kadar daripada menganggur di rumah. Bisa dibayangkan jika para staf atau pendirinya hanya berasal dari orang-orang gagal dan kecewa serta dibayar asal-asalan. Motivasi dalam mendirikan LSM pun bisa terselip unsur dendam kepada pemerintah atau masyarakat yang mengecilkan keberadaan mereka selama ini.

Teten Masduki, Koordinator Indonesia Corruption Watch dalam satu bukunya yang mengkritisi lembaga swasta korupsi membuat teori korupsi yang sungguh jempolan dengan ending yang meminta siapa saja ikut menghentikannya. “Korupsi bukan soal ideologi atau agama. Bukan pula soal negara kaya atau miskin. Tak pernah ada zero corruption zones yang permanen. Namun, ketika terjadi penyimpangan, harus ada sistem yang bekerja untuk mengatasinya. bagaimana bisa mewujudkan good governance manakala sektor swasta atau kalangan civil society korup? Membasmi korupsi perlu collective action!”

Jika demikian, moral LSM lesbian sudah seharusnya menjunjung tinggi legitimasi hukum, mempergunakan nurani dan hati ketika mengusulkan proyek-proyek guna mendapatkan dana. Kemudian melaksanakannya secara benar sebagai bagian dari visi/misi LSM yang biasa dituliskan sangat indah, menjanjikan utopia surga yang terdengar muluk. Semoga masyarakat , kaum lesbian khusunya, bisa membedakan mana aktivis yang kotor dan tidak, dan tidak berburuk sangka dengan semua LSM homoseksual. Jangan sampai aktivis lesbian yang diharapkan menjadi ikon dalam memberi contoh baik di masyarakat; kemudian diidolakan, diidealkan oleh para lesbian, bukan malah merampok kaumnya sendiri dengan kejam atas nama keadilan.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

Labels: ,

posted by SepociKopi, 5:22 PM Baca Selengkapnya!

Mencintai dengan Logika

Monday, March 30, 2009

Oleh: Frizzy Jo

Beberapa hari lalu aku berkesempatan meluangkan waktu untuk melakukan blogwalking dan terpaku membaca tulisan dari sebuah blog. Sebuah cerita yang mengingatkanku pada novel dan film berjudul PS I love you.

Dalam tulisannya, si pemilik blog bercerita tentang kekasihnya yang meninggalkan sebuah surat bahwa ia akan pergi selama satu tahun untuk menyelesaikan urusan pribadinya. Pergi untuk meninggalkannya dan juga meninggalkan seluruh keluarganya.

Yang unik (dan kurasakan memiliki kesamaan dengan novel dan film PS I Love You) adalah saat ia bercerita bahwa sebelum pergi sang kekasih telah meninggalkan sebuah kotak yang isinya penuh dengan hadiah-hadiah untuk dirinya. Hadiah ulang tahun, hadiah hari kasih sayang, hadiah hari raya Imlek, dan seabrek hadiah-hadiah hari raya lain. Pokoknya lengkap untuk satu tahun selama kepergiannya.

Sempat terpikir dalam benakku kenapa aku tidak terpikir untuk melakukan hal yang sama saat Mei, partnerku, ketika dia kembali ke negeri seberang untuk menyelesaikan studinya? Kan lumayan tuh menghemat biaya kirim yang pastinya lumayan mahal. Kenapa aku tidak terpikir untuk membeli barang-barang kesukaannya, membungkusnya dengan indah, meletakkannya dalam sebuah kotak. Lalu Mei akan membuka hadiah itu satu persatu, menjadi kejutan saat dia mengetahui yang ada di balik pembungkus kado tersebut. Sudah terlambat sekarang, jadi percuma saja.

Lalu aku kembali membaca kelanjutan ceritanya. Dan, sumpah!!! Alih-alih aku menikmati perasaan romantis yang dirasakan pemilik blog itu, yang ada aku malah jadi ketawa ngakak sengakak-ngakaknya. Bagaimana tidak ngakak kalau dalam ceritanya sang kekasih yang rencananya pergi selama setahun tiba-tiba kembali. Kembali hanya dalam jangka waktu dua minggu!!! What the **** is this??? Saat itu yang muncul adalah pertanyaan "Apa yang ada di benak tuh orang sih?"

Responku terdengar sinis ya? Tapi tunggu dulu. Aku sinis bukan kepada pemilik blog itu. Tapi sinisku ditujukan kepada sang kekasih pemilik blog yang dengan seenak jidatnya pergi tanpa kabar, meninggalkan sang kekasih yang meratap sedih atas kepergiannya, kemudian menjadi bingung karena ditinggalkan sepucuk surat dan sekotak penuh hadiah. Lebih gila lagi, belum sampai satu tahun (sesuai dengan apa yang dituliskan), eh baru dua minggu sudah kembali dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Buset deh!!! Dia pikir perasaan kekasihnya itu sakelar listrik yang mudah di on-off kali.

Eh, tapi kenapa jadi aku yang marah? Padahal pemilik blog itu malah sangat bahagia karena sang kekasih sudah kembali ke pelukannya. "Kesalahan"nya tidak menepati janji untuk kembali setahun setelahnya seolah menjadi debu yang tertiup angin entah kemana. Cinta butanya mungkin telah mematikan logika sang pemilik blog hingga ia tidak merasa perlu perlu meminta penjelasan mengapa terjadi seperti itu. Dia menerima kekasihnya kembali dengan lapang dada.

Aku membayangkan jika hal itu terjadi pada diriku. Suatu hari, tiba-tiba Mei menghilang tanpa kabar, membuatku berhari-hari tidak bisa melakukan apa-apa karena mencari keberadaannya. Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah email berisi penjelasan dari Mei yang isinya mengabarkan bahwa Mei butuh waktu selama satu tahun untuk menyelesaikan urusan pribadinya (tanpa perlu menjelaskan jenis urusan pribadi apa yang ingin dia selesaikan). Lalu keesokan harinya, muncul sebuah paket berisi hadiah-hadiah. Pokoknya persis sama dengan yang dilakukan kekasih pemilik blog itu.

Pada saat Mei akhirnya kembali beberapa minggu kemudian, apakah aku akan diam saja? Apakah aku akan bersikap seolah-olah kejadian sebelumnya bukan hal besar yang harus dibahas bahkan dipermasalahkan? Apakah aku akan kembali bahagia tanpa diselimuti tanda tanya tentang urusan pribadi yang membuatnya tega meninggalkanku tanpa penjelasan yang masuk akal?

Mungkin ada yang bisa. Tapi bukan aku. Aku adalah seorang perempuan yang selalu membutuhkan penjelasan logis untuk segala hal yang terjadi. Sepersekian detik setelah aku menerima email darinya, aku akan langsung membalasnya dengan menuntut penjelasan darinya. Saat tiba-tiba ia kembali kepadaku dan bersikap seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi, aku akan membahasnya sampai tuntas walaupun diskusi tersebut akan berakhir pada pertengkaran.

Dangkal? Terserah apa pendapat orang tentang diriku. Tentu aku tidak bisa menerima diperlakukan secara brutal oleh seseorang yang selama ini kuanggap paling mengerti akan diriku. Seseorang yang telah berjanji akan menjaga hatiku selama waktu mengizinkan. Karena saat ia telah berjanji untuk menjaga hatiku, sudah selayaknya dia mengerti dan memahami hidupku.

Yah, apapun itu, setiap orang memiliki prinsip yang berbeda, penerimaan yang berbeda. Dan aku menghargai setiap perbedaan itu. Mungkin rasa cinta yang dimiliki oleh pemilik blog itu adalah benar cinta sejati, dan sungguh, aku ikut merasa bahagia untuk kekasih pemilik blog tersebut. Bahagia karena ia telah dicintai oleh seseorang yang memiliki hati yang begitu besar untuk menerimanya kembali. Menerimanya tanpa syarat.

@Frizzy Jo, SepociKopi, 2009

Labels: , , ,

posted by SepociKopi, 3:44 PM Baca Selengkapnya!

Hartoyo : Coming Out For His Rights

Sunday, March 29, 2009

Hartoyo : Coming out for his rights
(http://www.thejakartapost.com)
Bruce Emond , The Jakarta Post, Jakarta | Fri, 03/27/2009

When he was an NGO worker involved in gender rights in farming communities, Hartoyo says he was greeted as a hero wherever he went. Today, in his more personal battle for gay rights in Indonesia, it's a much lonelier journey.

"Fighting for gay rights is so different from other humanitarian causes such as education or helping the poor, even sex workers," says the 33-year-old, known as Toyo. "If we are working for gay rights, we're considered somebody who is totally amoral. I'm not out to be a hero, but we are not even given respect as a person trying to achieve something."

He puts the stigma in blunt terms. "They think I am just fighting for penises and vaginas. That is the challenge for me."

The founder of One Voice, a group for empowering gay and bisexual men in Indonesia, is about to take another step in his journey. His autobiography Biarkan Aku Memilh: Pengakuan Seorang Gay (Let Me Choose: The Coming Out Declaration of a Gay Man) will be launched in Jakarta on April 17, followed by a speaking tour of several major cities.

He says he is ready for whatever reaction the book may get; it has several graphic passages about his sexual awakening and a harrowing description of his torture by police in Aceh. A slight, excitable man with a watchful gaze, he has been reviled on websites and received death threats by SMS. Although he sometimes wonders why gay rights is his calling, he has gone through too much to stop now, even if he is mostly going it alone.

While gay people in the West are demanding the right to civil unions, most Indonesian homosexuals are firmly in the closet, despite gay men becoming an increasingly visible part of the urban landscape of Jakarta and other major cities. In conformist, religious and family-oriented Indonesian society, a "don't ask, don't tell" policy still exists for what is considered a deviant lifestyle.

It's not just the general public that is dismissive of the concept of gay rights. Many men who have relations with other men (lesbians in patriarchal Indonesia face their own issues) are not interested in the politics of their sexuality. They are uneasy, even hostile toward gay men who come out publicly.

"They consider it wrong, that I'm strange for doing this," says Toyo, who adds that he does not blame them for their opinion. "They are part of a heterogenist society where they have been taught that being gay and their identity is just about sex. They're victims, too."

The youngest son from a large family of Javanese transmigrants, Toyo was raised in Binjai, North Sumatra. His father was a civil servant and his mother died when he was about two. It was a deeply religious community, and Toyo would study at a madrasah after regular school. He says he is a product of his Javanese ancestry and the more forthright approach of the local Batak people.

He knew early on that he was different. In his book, he tells of declaring to his friends in elementary school that he didn't like girls, which was met by a chorus of laughter.

His teenage years were marked by intense feelings of guilt about his homosexuality. It was only later, when working for an international NGO, that he developed a greater understanding of his identity. He describes an almost mystical experience when all of his repressed feelings and anger suddenly poured out during a meditation session. He read up on homosexuality from websites, and gradually began to come out to colleagues.

His tenuous reality of acceptance was shattered after he moved to Aceh to work in the field of women's and children's rights after the 2004 tsunami. On a January night in 2007, a group of people broke down the door of his rented room in Aceh, beat him and his boyfriend, ransacked his possessions and called the police.

He thought that he would be safe once in custody. Instead, for the next three hours, the two men, mainly Hartoyo, because he says he argued with the police, were subjected to abuse.

In a Jakarta coffee shop on a Saturday morning, a world away from Aceh where sharia law is practiced, Hartoyo takes a deep breath when asked to describe that experience. He says he still shudders when he hears a sudden knock on his door.

"We were treated like animals," he says of being stripped naked, forced to perform sex acts and being urinated upon.

The abuse (the two men were later forced to sign a "contract" stating they would not engage in homosexual relations again) was humilating enough. The reaction of others was also hurtful. Some said he should have known better than to have a homosexual relationship in Aceh of all places.

"I couldn't believe what I was hearing," he says indignantly. "Aceh is still part of Indonesia and the police are supposed to protect citizens ... torture is barred even under war conventions. But everybody was silent when my case came out. I felt it was as though the torture was acceptable because I'm gay."

He pursued his case against the police; when it finally came to trial in October 2008, four policemen were given suspended sentences and fined Rp 1,000 each, the same sentence that might be given for failing to wear a motorbike helmet on the road. He says he was shocked when the judge lectured him that the police had done the right thing in their treatment of him, thereby preventing another tsunami hitting Aceh.

"I was the accused, not the victim," he says.

If anything, such treatment has emboldened him. He denounced the media frenzy last year surrounding serial killer Ryan, which painted homosexuals as jealous, possessive characters with psychopathic tendencies. He plans to send his book to President Susilo Bambang Yudhoyono and the Aceh Police chief, among others, in the hope that his case may be reopened.

He wants gay people living in remote corners of the country to read his story and know they are not alone. He also hopes that one day at least one respected Indonesian public figure will be brave enough to come out.

"I've chosen to publicize my experiences and campaign about this, and that means I'm ready for the consequences of my choices," he says. "Let others disagree with my position, as long as they don't use violence or don't try to force what they want on others. If they don't agree, then let's engage in dialogue. We're still a democratic country."

Biarkan Aku Memilih, co-written by Titiana Adinda, is published by PT Elex Media Komputindo

Copyright © 2008 The Jakarta Post - PT Bina Media Tenggara. All Rights Reserved.
Source URL: http://www.thejakartapost.com/news/2009/03/27/hartoyo-coming-out-his-rights.html

@SepociKopi, 2009

Labels: ,

posted by alex, 7:22 PM Baca Selengkapnya!

Obrolan Cewek: 10 Cara Menghangatkan Kembali Hubungan yang Nyaris Basi

Oleh: Fluffy

Pernahkah kamu merasa terombang-ambing dalam hubungan? Sebagian besar dari kita pasti pernah. Hubungan yang sudah berjalan lama itu perlahan terasa mulai basi, dingin, dan menyita pikiran. Kita ngerasa pasangan mulai menjauh, perhatiannya berkurang, prasangka-prasangka bermunculan. Begitu juga sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan yang sama mengganggu pikirannya.

Apa sih yang sedang terjadi, pastinya pertanyaan itu hadir di benak kamu dan pasangan. Jawabannya sendiri, sebenarnya ada pada kamu, pasangan, dan hubungan kalian. Cross check dengan dunia luar itu penting (kalau-kalau salah satu dari kalian selingkuh?), tapi yang paling penting adalah ngecek diri sendiri dulu sehingga kamu nggak perlu menyewa detektif untuk mengetahui semua hal yang tengah berlangsung.

Di bawah ini ada 10 tips dari Fluffy yang dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan gratis. Fluffy bikin beginian, karena Fluff suka deh, liat pasangan yang mesra-mesra :p


1. Saat kamu mulai ngerasa ada jarak invinsible yang mengganggu hubungan, segera bicarakan dengan pasanganmu. Ini berlaku untuk yang LDR maupun domestik.

2. Berdiskusi dengan pasangan dengan kepala dingin tentang situasi yang up to date. Tips: letakkan sekantong es batu di kepala masing-masing sepanjang diskusi dan jangan diskusi kalau salah satunya lagi PMS atau menstruasi.

3. Marah kalau kamu kepingin marah tapi juga harus kuping badak kalo pasanganmu kepingin gantian marah. Ini salah satu cara yang baik, seru, dan memacu adrenalin untuk meledakkan suasana dan ngebiarin unek-unek kalian keluar.

4. Bercinta sehabis marah-marah. Hahahaha.

5. Atur dan luangkan waktu untuk napak tilas ke masa lalu. Misal, ke tempat-tempat yang kamu dan pasanganmu suka. Kalo lagi sama-sama miskin, bisa diakali dengan beli snack kesukaan kalian dan makan bareng sambil nonton film yang kalian banget.

6. Jujur dan terbuka. Menyakitkan memang, Ladies. Tapi kejujuran dan berani untuk jujur adalah dua hal yang sangat melegakan. Tinggal pintar-pintarnya kamu dan pasangan untuk nggak saling tampar setelahnya :p

7. Saling memaafkan. Ciyeh! Sungkem-sungkeman, anggap aja lagi hari raya, saling memberi angpao kalo perlu... hehehe.

8. Konsultasi dengan orang-orang terdekat kalian. Itu lho, kayak di film-film, pergi ke konsultan pasangan. Mungkin kalian membutuhkan uluran tangan dingin konsultan? Hihi.

9. Jangan sekali-kali lari dari masalah. Kalau ada, ya dihadapi aja. Entah siapa yang memulai, hadapilah bersama (namanya juga pasangan). Tapi kalo salah satu dari kalian lari-lari, Fluff pikir yang lainnya berhak menggantung partnernya di pohon beringin lalu bicaralah.

10. Ini cara paling ampuh! Pergi ke dapur, masukkan hubunganmu ke dalam panci. Nyalakan api kompor dan tunggu beberapa saat. Jadi hangat lagi, kan? Hihi.


Selamat mencoba! Fluff ucapkan selamat berbahagia selalu bagi semuanya!

Happy Sunday...

@Fluffy, SepociKopi, 2009

Labels: ,

posted by alex, 6:50 PM Baca Selengkapnya!

Cuci Mata: The Language of Culinary

Saturday, March 28, 2009

Oleh: Sidney

Coq au vin. Unagi. Pasto. Garam Masala. Risotto. Kofte Kebab.

Beragam nama yang asing di lidah itu jadi tidak asing lagi saat sudah dinikmati dalam bentuk harfiah alias disantap dan dinikmati lidah. Bagi banyak orang, makan bukan lagi sekadar kegiatan penyambung nyawa. Malah kegiatan kuliner ini menjadi ajang gaul, acara televisi, bahkan bagian transaksi bisnis.

Banyak budaya menjunjung tinggi kegiatan makan ini. Thanksgiving dinner. Makan malam Imlek. Makan ketupat bersama saat Idul Fitri. Kegiatan makan merupakan bagian dari kebersamaan. Makan bersama diyakini bisa memperat hubungan persaudaraan dan keluarga.

Sejak kecil, orangtuaku sangat menekankan pentingnya makan bersama dalam keluarga. Setiap makan malam, kami berkumpul di meja makan. Dimulai dengan berdoa bersama, berterima kasih atas makanan yang akan kami santap, lalu kami pun akan mengobrol sambil menikmati makan malam. Makan bersama bukan hanya dinner saja, tapi panganan kecil juga dapat disajikan untuk keluarga atau sahabat yang datang bertamu. Berdiskusi, bercakap-cakap, dan menyimpul tali silaturahmi selalu didampingi oleh kegiatan makan.

Belakangan ini makan menjadi bagian dari gaya hidup. Kegiatan makan di luar rumah merupakan aktivitas penting dalam pertemuan keluarga bahkan rutinitas pergaulan. Restoran menjadi ruang berkumpul bersama saudara/orangtua atau sahabat, tempat janjian ketemu dengan klien, atau tempat kencan. Restoran yang dipilih pun bukan restoran sembarang, melainkan restoran yang menunya telah terbukti kelezatannya dan sesuai dengan selera para pengunjung.

Makan juga menjadi kegiatan yang mengisi jiwa dan juga tubuh. Saat menyantap makanan, lidah menikmati setiap rasa yang masuk ke mulut. Saat mengunyah, indra-indra lain pun bereaksi dengan menyambutnya sepenuh jiwa. Menikmati makan rupanya memang bukan hal yang baru, terbukti sejak dulu, makanan apa pun yang lezat pasti selalu ramai dikunjungi orang. Omongan dari mulut ke mulut pun menyebar. Entah gado-gado di warung anu sampai ke restoran elit di jalan anu. Karena itu, tidak heran makanan yang terkenal sejak zaman kurun waktu yang lama tetap terkenal dan bisa dinikmati oleh orang jika manajemennya berjalan dengan baik.

Bagiku, makan itu bukan hanya mengisi perut, tapi juga mengisi hati dan jiwa. Beberapa orang sering lupa meluangkan waktu untuk menikmati kegiatan makan, apa pun jenis makanan yang mereka santap. Lebih seringnya lagi, orang makan hanya karena dia harus makan. Titik. Ya, kalau kita hidup di zaman perang mungkin sangat bisa dimengerti. Tapi di zaman Blackberry, ah please deh, menyedihkan sekali!

Budaya makan menghasilkan budaya memasak. Makanan hasil karya banyak negara menjadi terkenal dan melegenda. Jenis makanan itu melanglang buana, dicicipi oleh milyaran lidah manusia, dicintai oleh mereka. Sebut saja makanan Jepang, Korea, Lebanon, Morocco, Prancis, Meksiko, Turki, Jerman, Inggris, Italia, Vietnam, dan lain-lain. Setiap makanan memiliki ciri khasnya masing-masing; dengan bumbu, cara memasak, aroma, racikan, dan presentasinya sendiri-sendiri.

Belakangan ini, dengan mal-mal dan pusat perbelanjaan yang menjamur, maka restoran-restoran baik lokal maupun import mulai membuka pintunya. Mulai dari restoran gaya kaki lima, warung, fast food, resto keluarga, sampai jamuan mewah lengkap bertebaran di Jakarta. Mencoba makanan baru pun jadi kegiatan gaul yang dikemas dengan nama “wisata kuliner”. Nggak pernah nyobain sushi di restoran XXX? Uh, kamu nggak gaul deh. Pizza yang kamu tahu cuma Pizza Hut? Aih, Jeng, tinggal di kerak bumi ya? Masakan Thailand yang lezat? Ouch, it's too spicy for my stomach, try German's sausage. Yuk kita mencoba Morroco, ambience restorannya sungguh-sungguh seperti berada di setting 1001 malam. Atau bagaimana kalau memilih makanan warung ala peranakan Indonesia yang belakangan ini di-upgrade menjadi mewah dan berkelas?

Dunia lesbian yang tidak lepas dari kopi darat pun sering menggunakan ajakan makan sebagai alasan pertemuan. Menikmati makan sambil melakukan pe-de-ka-te sambil melancarkan rayuan-rayuan maut memang asyik. Tidak perlu menunggu dating, untuk berkumpul bersama dengan teman-teman lesbian lainnya juga oke. Resto anu yang makanannya enak tapi tidak terlalu mahal, atau bistro XYZ yang terkenal dengan tempatnya yang gaul, atau cafe ABC yang kopinya tiada duanya. Makanan bisa menjadi penyelamat saat obrolan menjadi kaku dan kehilangan arah. Makanan bisa juga menjadi penyemangat ketika obrolan semakin hot dan seru.

Jadi mulailah memilih restoran yang menunjukkan jati dirimu dan ajak calon pasanganmu (atau teman-temanmu) ke sana, dan lihatlah kadar kecocokan (dan derajat persahabatanmu) di sana. Mungkin pepatah harus diubah menjadi Dari Perut Naik ke Hati.

@Sidney, SepociKopi, 2009

Labels: , ,

posted by alex, 10:24 PM Baca Selengkapnya!

Film: Milk - Biopic Menggugah dari Seorang Tokoh Inspiratif

Friday, March 27, 2009

Oleh: Alex

My name is Harvey Milk, and I'm here to recuit you. Itu adalah sepotong kalimat yang biasa digunakan oleh Harvey Milk (Sean Penn) dalam mengawali pidatonya. Film peraih Oscar ini diangkat dari kisah nyata hidup Harvey Milk, seorang politisi dan aktivis gay. Harvey Milk merupakan tokoh yang mengakui dirinya gay secara terbuka dan terpilih menjadi pegawai negeri di California sebagai anggota San Francisco Board of Supervisors pada tahun 1977, setelah dua kali gagal dalam pencalonannya.

Harvey Milk lahir pada tahun 1930 dan tewas terbunuh pada tahun 1978, setahun setelah dia menduduki jabatannya di pemerintahan dengan gemilang. Dia tewas ditembak di kepala oleh Dan White (Josh Brolin) sesama anggota dewan yang merasa dikhianati Milk. Penembakan yang terjadi di balai kota itu juga menewaskan Wali Kota George Moscone, yang juga sahabat politik Harvey Milk.

Milk disutradari oleh sutradara gay, Gus Van Sant, yang sudah dikontrak sejak tahun 1992 namun setelah sejumlah konflik dan kekacauan selama 15 tahun akhirnya sukses melahirkan film yang memperoleh sejumlah penghargaan bergengsi ini. Terutama untuk Sean Penn yang dengan gemilang berperan sebagai Harvey Milk. Selain Sean Penn mendapat piala Oscar sebagai aktor terbaik, penulis skenario Dustin Lance Black memperoleh penghargaan sebagai penulis skenario terbaik dalam film yang penuh dengan kata-kata inspirasitif. Milk juga bergelimang penghargaan lain seperti dari BAFTA Awards, Screen Actors Guild, British Academy Film Awards, dll.

Film tentang perjuangan aktivis gay ini dibuka pada tahun 1970 ketika Milk bertemu dengan Scott Smith (James Franco) di tangga subway New York. Milk dan Smith kemudian menjadi sepasang kekasih setelah pertemuan singkat tersebut. Keinginan untuk mengubah hidup dan memperoleh penerimaan membuat dua lelaki ini melakukan perjalanan bermobil hingga sampai ke San Francisco, menuju daerah Castro. Pada masa itu Castro mulai dikenal sebagai wilayah gay.

Harvey Milk yang memiliki jiwa bisnis membuka toko kamera di Castro, namun ketertarikannya pada dunia politik dan keinginannya yang kuat agar kaum homoseksual tidak lagi dianggap kelas dua membuatnya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai dewan supervisor San Fransisco. Milk percaya bahwa seorang homoseksual bisa menjalani hidup dengan jujur dan sukses, meskipun tahun 1970-an menjadi gay biasanya berarti hidup dalam ketakutan dan hinaan. Bahkan tidak jarang mereka menjadi korban kebencian dengan dipukuli atau bahkan dibunuh.

Milk secara terbuka mengakui dirinya gay, walaupun pada awal masa kampanyenya, isu gay ini membuatnya kalah dalam pemilihan. Dalam salah satu wawancara, Milk mengatakan. “If I do a good job, people won't care if I am green or have three heads." dan gay atau tidak bukanlah isu utama lagi. Walaupun tidak bisa dipungkiri kaum homoseksual membuatnya menang dalam pemilihan tahun 1977 dan juga menjadikan Harvey Milk memiliki bargaining power yang kuat dalam pemerintahan, karena dia tidak segan menggunakan komunitas gay sebagai massa penggeraknya.

Pawai Kemenangan Harvey Milk Saat Terpilih Jadi Anggota Dewan, 1977

Milk dan kebangkitan homoseksual ini tidak diterima begitu saja di Amerika Serika. Anita Bryant, penyanyi yang juga memimpin gerakan fundamentalis Kristen mengutuk keras kaum homoseksual. Hal ini menimbulkan perseteruan antara kaum homoseksual versus Kristen fundamentalis yang berujung pada pertikaian politik. Penyebaran kebencian terhadap kaum homoseksual dilawan dengan demonstrasi besar-besar yang diikuti oleh ribuan orang (gay/lesbian) secara spontan hingga mereka memenuhi jalanan sepanjang delapan kilometer. Di sana pula Harvey Milk menyampaikan salah satu pidatonya yang terkenal.

"Somewhere in Des Moines or San Antonio there is a young gay person who all the sudden realizes that he or she is gay; knows that if their parents find out they will be tossed out of the house, their classmates will taunt the child, and the Anita Bryant's and John Briggs' are doing their part on TV.

And that child has several options: staying in the closet, and suicide. And then one day that child might open the paper that says "Homosexual elected in San Francisco" and there are two new options: the option is to go to California, or stay in San Antonio and fight. Two days after I was elected I got a phone call and the voice was quite young. It was from Altoona, Pennsylvania. And the person said "Thanks".

And you've got to elect gay people, so that thousand upon thousands like that child know that there is hope for a better world; there is hope for a better tomorrow. Without hope, not only gays, but those who are blacks, the Asians, the disabled, the seniors, the us's: without hope the us's give up. I know that you can't live on hope alone, but without it, life is not worth living. And you, and you, and you, and you have got to give them hope." - Harvey Milk, 1978

Sebuah pidato yang menggugah tentang harapan, tentang masa depan yang lebih baik jika semakin banyak kaum homoseksual yang tampil ke muka publik. Visibilitas semacam ini penting untuk menunjukkan keberadaan gay/lesbian di muka bumi ini, sehingga entah di pelosok bumi belahan mana seseorang yang merasa hidupnya tidak berarti karena menyadari dirinya gay/lesbian akan memiliki pilihan hidup selain jalan yang tampak suram dan kesepian.

Harvey Milk mungkin sudah tiada, tapi warisan yang ditinggalkan olehnya tetap membara di hati jutaan masyakarat homoseksual di Amerika Serikat. Dan kini, jutaan mata dan hati berkesempatan untuk menyaksikan tokoh inspiratif ini melalui film yang menggugah dan (pasti) meninggalkan kesan di hati gay/lesbian yang menontonnya.

@Alex, SepociKopi, 2009

Labels: , ,

posted by alex, 11:19 PM Baca Selengkapnya!

Have Your Say: Kesetiaan yang Mahal Harganya

Bersetia? Bisakah kita para lesbian melakukannya, tanpa ikatan hukum pernikahan apa pun? Setia hanya berlandaskan cinta semata, tanpa terlibat perselingkuhan maupun terjatuh dalam hubungan poligami? Bisakah kita melakukannya? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Anna yang bercerita.

Perkenalkan, saya Anna. Saat ini, sudah enam tahun saya menjalin hubungan dengan kekasih saya, sebut saja Santi.

Tahun-tahun awal hubungan kami berjalan mulus tanpa ada gangguan yang berarti. Semuanya berjalan baik-baik saja. Segalanya indah. Walaupun tinggal di kota yang berbeda, kami selalu saling menjaga kesetiaan. Di tahun kedua, saya memutuskan untuk pindah ke kota tempat tinggal Santi agar kami berdua bisa hidup bersama tanpa terpisahkan jarak dan waktu. Hidup berdua dengan Santi membuat saya merasa sangat bahagia. Hari-hari yang kami lalui penuh dengan cinta sepenuh hati. Saya sangat mencintainya. Begitupun sebaliknya.

Hingga akhirnya pada tahun keempat, hubungan kami diterpa cobaan. Semua berawal dari perkenalan Santi dengan seorang perempuan (sebut saja namanya X), teman dari salah satu saudaranya yang kebetulan sedang berlibur di kota ini. Selama beberapa hari hingga X pulang kembali ke kotanya, semua masih terasa baik-baik saja. Namun setelah beberapa minggu berlalu, saya mulai merasakan ketidaknyamanan.

Santi mulai rajin mengirim berita melalui SMS dengan X. Hampir setiap hari dia melakukannya. Pagi, siang, hingga larut malam. Saya mencurigainya. Ketika saya mengungkapkan kegelisahan saya, Santi selalu berusaha menutupi dan mengatakan bahwa mereka hanya sekedar berteman. Oke, saya berusaha memercayai kata-kata kekasih saya. Saya meyakinkan diri dia takkan berbohong pada saya.

Tapi kerisauan saya tidak berhenti, malah semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya, suatu saat saya memergoki salah satu SMS Santi untuk X menunjukkan bahwa selama ini yang terjadi antara Santi dan X bukanlah pertemanan semata. Ya, tanpa sepengetahuan saya, mereka berdua telah 'jadian' dan berpacaran. Saya terkejut.

Bayangkan betapa hancurnya hati saya. Saya menangis tak karuan. Seraya bersimpuh di kaki Santi, saya memohon agar perselingkuhannya segera dihentikan. Tapi rupanya hati Santi sama sekali tak tergugah meski melihat kepedihan dan kehancuran saya. Santi tetap ingin melanjutkan hubungan perselingkuhannya dengan X, tapi juga tak mau memutuskan hubungan kami berdua. Santi ingin kami 'jalan' bertiga.

Betapa tak berperasaannya dia!

Saya lemas, jatuh tertunduk tanpa tahu harus berbuat apa. Hampir setahun saya tetap hidup bersama Santi dengan kepedihan yang tiada henti. Melihatnya tak pernah lepas dari handphone (hal yang selama ini tak pernah ia lakukan), mendengarnya bercengkerama dengan X di telepon. Dada saya serasa terkoyak habis-habisan. Saya berusaha tetap bertahan mendampingi Santi, meski hati saya tak pernah merelakan keputusannya untuk tetap menduakan saya. Entahlah, saya begitu mencintainya. Seorang kawan bahkan pernah berkomentar betapa bodohnya saya yang mau tetap bertahan demi cinta yang konyol dan gila seperti ini.

Sampai suatu saat, hati saya merasa letiiih sekali, hingga akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Meninggalkan Santi,meninggalkan segala kenangan indah kami berdua selama ini. Meninggalkan semuanya dalam diam. Toh tak lama lagi X akan pindah juga ke kota ini. Dan saya tak mau menjalani cinta yang gila ini. Saya berusaha mengikhlaskan semuanya. Biarlah Santi mencari kebahagiaannya sendiri. Dan biarlah saya mengalah, menyudahi segalanya.

Selama beberapa bulan saya berusaha mempersiapkan segala hal untuk kembali pulang ke kota asal saya. Beberapa bulan setelah saya memutuskan untuk berpisah dari Santi (tapi masih dalam kondisi tinggal serumah dengannya), saya sempat berkenalan dengan seorang perempuan (yang juga teman lesbian, sebut saja Z). Pada awal perkenalan, kami biasa saja. Hingga akhirnya entahlah, saya 'jadian' dengan Z. Santi yang curiga dengan kesibukan mendadak saya ber-SMS dengan Z menjadi marah besar. Santi mencecar saya dengan berbagai pertanyaan tentang Z. Saya cuma diam menangis.

Tibalah saatnya saya pulang kembali ke kota asal. Dengan meninggalkan sepucuk surat untuk Santi, saya pergi ketika Santi tak ada di rumah. Sesampainya di rumah, saya berusaha untuk menenangkan diri. Tanpa ada lagi Santi yang selama ini selalu menemani. Jujur, hati kecil saya masih mencintainya meski saya telah dilukainya tanpa ampun.

Belum ada seminggu setelah saya pulang kembali ke rumah, Santi menyusul dan mengajak saya kembali lagi padanya. Santi meminta maaf. Santi memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan X dan ingin kembali bersama saya seperti dulu.

Sekali lagi, jujur,saya masih mencintainya. Tapi hati saya masih terlalu sakit untuk menerima Santi kembali dan mempercayainya. Lagi pula, saya sudah menjalin hubungan dengan Z. Entahlah, terkadang saya juga merasa ragu menjalani hubungan dengan Z. Mungkinkah ia hanya menjadi pelampiasan kekecewaan dan sakit hati saya terhadap Santi? Saya tidak tahu. Hati saya menjadi bimbang.

Gagal mengajak saya kembali ke pelukannya ternyata tidak membuat Santi patah semangat. Lewat telepon dan SMS dia menangis dan memohon pada saya
untuk kembali padanya dan memulai segalanya dengan lembaran hidup yang baru. Santi bersikeras bahwa dia tak akan bisa jika tanpa saya. Lama kelamaan hati saya luluh juga. Tapi saya juga bingung tak karuan. Di satu pihak, Santi kukuh tak ingin diputus, di pihak lain, Z juga tak mau saya tinggalkan. Duh Tuhan, betapa runyamnya perasaan saya!

Akhirnya dengan menanggung segala resiko, saya memutuskan untuk kembali ke pelukan Santi. Kini, saya dan Santi telah bersama kembali. Kami saling berjanji tak akan lagi ada luka dan pedih lagi. Saling berjanji tak akan lagi mengulang segala kesalahan. Semoga godaan keji tak akan lagi menghampiri kehidupan saya dan Santi lagi. Semoga kehidupan kami berdua akan baik-baik saja. Semoga...

(diceritakan dan ditulis oleh Anna)

@Anna, SepociKopi, 2009


Redaksi SepociKopi menerima kiriman kisah pengalamanmu yang mengiris hati namun telah berhasil kau lewati dengan baik. Mungkin ceritamu bisa menjadi sharing berharga buat teman-teman yang lain. Bagi pengalamanmu ke redaksi SepociKopi di jejak_artemis@yahoo.co.id dan alex58id@yahoo.com, dan sebeningembun@gmail.com

Labels: ,

posted by SepociKopi, 12:54 PM Baca Selengkapnya!

Bengkel Menulis: Antara Gagasan dan Alur Cerita

Thursday, March 26, 2009

Oleh: Lakhsmi

Mari berbincang tentang gagasan.

Segala hal yang berjalan dengan baik biasanya dimulai dengan gagasan yang baik. Misalnya, bisnis, pekerjaan, seni, pembangunan, bahkan menulis. Gagasan adalah gambaran secara utuh dan futuristik yang menjadikan sesuatu yang belum ada menjadi tampak nyata. Cerpen atau karya sastra (perjuangan) lainnya membutuhkan gagasan sebagai fondasi dasar dan arah tujuan cerita.

Seperti apa gagasan yang melandasi sebuah cerpen lesbian yang layak? Banyak yang berpikir gagasan yang besar akan menghasilkan karya yang besar. Maka dicarilah gagasan-gagasan yang terdengar gagah dan mentereng. Cerpenis-cerpenis lesbian pemula – terkadang disponsori dan dikompori oleh aktivis/LSM homoseksual, mulai menciptakan gagasan-gagasan gegap gempita atas nama hak asasi manusia dan perjuangan humanisme. Dengan rancang-awal yang selalu berkaraterisasi sempurna dan mulia, akhirnya lahir cerpen-cerpen yang limbung karena keberatan gagasan namun miskin dalam alur penceritaan.

Gagasan tidak harus besar. Gagasan sederhana justru adalah gagasan yang mendorong sebuah karya sastra menjadi indah. Gagasan tidak selalu harus berhubungan atau berada di lingkup homoseksualitas. Yang tampaknya jauh serta tak berhubungan sebenarnya dapat selalu dihubungkan. Di tengah krisis multidimensi masyarakat, termasuk kecarutmarutan wajah dunia homoseksual Indonesia, isu menjadi sangat luas dan tak terbatas. Bayangkan gagasan sebuah cerpen lesbian seperti kapitalisme, modernisasi, budaya lokal, politik, ekologi, bahkan absurditas. Banyak lekuk dan liku yang dapat ditelusuri di sana menjadikan seni menulis sebagai "pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban final", tidak melulu berpotensi curhat yang berputar di masalah itu-itu saja.

Gagasan memang menjadi pemicu sebuah karya sastra. Tentu, sastra adalah karya seni yang memiliki denyut napasnya sendiri (seni adalah proses) sehingga seharusnya cerpen yang terlahir dari rahimnya memiliki peran elaborasi yang gemulai dengan gagasan. Misalnya begini. Cerpen selayaknya memiliki susunan cerita yang yang bergerak dari awal sampai akhir. Kalau di tengah-tengahnya disusupi paragraf-paragraf yang “kelihatannya berada di dalam cerita tapi sebenarnya hanya sampah jargon (homoseksual)”, maka cerpen itu sudah dibajak dengan kepentingan di luar teks sastrawi. Memang sangat sulit memilah antara mana cerpen lesbian yang memiliki takaran pas antara gagasan dan estetika alur cerita. Salah satunya, "karakter" atau "tokoh" cerita memainkan peranan penting dalam mengusung rekonsruksi alur cerpen dan menciptakan bayangan imajiner. Tapi aku akan menyentuh isu itu lain kali.

Kita akui saja dengan segala kerendahan hati bahwa cerpen-cerpen lesbian yang bertebaran di lembar-lembar independen masih banyak yang miskin dan nelangsa. Cerpen-cerpen lesbian yang sanggup melewati jurang seleksi dan meniti tali keindahan sastrawi sehingga muncul di ruang publik (khususnya koran) yang heteronormatif dan (masih) menjadi pemain utama dalam pergolakan teks terhitung dengan jari. Salut kepada mereka semua, tapi tidak usah merayakan kebanggaan yang berlebihan.

Faktanya, cerpenis-cerpenis lesbian masih belum mampu menyihir masyarakat heteroseksual untuk tenggelam di dalam karya-karya homoseksual yang elitis. Cerpenis-cerpenis lesbian masih belum fasih melahirkan metafora-metafora rapi pada kalimat bersayap, ledakan emosi kemuramannya, bisikan-bisikan keletihan yang tak berujung, atau pun sejumput harapan pada keriangan yang semrawut. Cerpenis-cerpenis lesbian masih tergagap-gagap dalam menciptakan dunia teks hidup dan lancar yang memotret kenyataan sosial.

Menikmati cerpen yang memiliki bobot alur cerita yang sejalan dengan kelenturan gagasan menjanjikan gairah dan keasyikan tersendiri. Namun, cerpen yang secara sadar mengusung gagasan TANPA keberhasilan mengukur dan merancang alur cerita akan menjadikan sepotong cerpen yang garing dan usang seperti monumen yang tua oleh waktu. Cerpen itu berubah menjadi spanduk, selebaran, pamflet, iklan, siaran, dan berita yang isinya penuh dengan hamburan kata-kata kosong hapalan luar kepala. Siapa yang mau dicekoki oleh kemonotonan itu? Jangan jadikan cerpen lesbian sekadar remah-remah tak bergizi pada jamuan makan malam.

Demikianlah bagaimana gagasan dan alur cerita berkawinan menjadi satu teks sastrawi yang mencerahkan. Semoga para calon penulis lesbian dapat menarik faedahnya apabila tulisanku yang kali ini dapat sungguh dipahami. Apabila tidak, mari kita mengheningkan cipta bersama untuk upacara kematian cerpen lesbian Indonesia yang memilukan.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

Labels: , ,

posted by SepociKopi, 9:39 AM Baca Selengkapnya!
Visitor Number: