<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\0755069022822139517350\46blogName\75sepoci+kopi\46publishMode\75PUBLISH_MODE_BLOGSPOT\46navbarType\75BLUE\46layoutType\75CLASSIC\46searchRoot\75http://sepocikopi.blogspot.com/search\46blogLocale\75en_US\46v\0752\46homepageUrl\75http://sepocikopi.blogspot.com/\46vt\75-6193618228055375371', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

Hikayat Cinta Platonik

Monday, May 21, 2007

Oleh: Ratri M.

Ketika pertama kali mendengar istilah cinta platonik maka yang terbayang adalah cinta penuh kekakuan, tanpa rasa. Namun bukankah yang namanya cinta selalu membawa rasa? Kemudian tercerahkanlah oleh bacaan yang menggunung bahwa cinta platonik adalah cinta tanpa eros. Sebuah cinta suci. Apakah lalu kemudian seks bermakna sesuatu yang tidak suci??

Uhmm, tanpa ada hasrat seksual? Jadi cinta platonik ini hanya bisa terjadi pada manusia dengan Tuhannya? Pada ibu-bapaknya? Pada saudara kandungnya? Lalu ada ungkapan lebih simpel disampaikan oleh seorang teman, ”cinta platonik adalah cinta antar sesama manusia karena nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri." Katanya simpel, tapi kok makin membingungkan buat pikiran dan otak bebal ini?

Kemudian hikayat cinta platonik pun bergulir dengan sendirinya. Mencintai orang lain dengan penuh rasa, namun tanpa hasrat seksual yang meledak-ledak, serta tidak ada keinginan untuk saling memiliki sebagaimana layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta. Saling menghormati, saling menjaga, dan tetap ada pendar-pendar bahagia ketika mendapatkan sapaan sederhana melalui telepon, sms, maupun sederet kalimat dalam sebuah e-mail. Bagaimana dengan hasrat seks? Apakah memandang matanya, senyumnya, dan ujung jarinya yang sedang mengangkat sendok, diiringi getar-getar halus rasa nyaman merupakan bagian dari hasrat seks? Entahlah, tapi itulah menurutku makna sebuah cinta platonik.

Cinta platonik yang pertama terasa, tertujukan kepada seorang guru SMP. Ibu guru yang sangat manis, sabar, lemah lembut sekaligus tegas, dengan rambut panjangnya yang selalu bergelung indah. Mata pelajarannya adalah mata pelajaran yang selalu dinanti penuh harap. Semangat ’45 yang menyala-nyala menjadi bagian dari diri ini ketika hari-hari ibu guru tersayang tersebut hadir di kelas. Sebuah perasaan cinta yang luar biasa, terlebih karena si ibu sangat memerhatikan diri ini yang beruntung menjadi ketua kelas dan tercatat sebagai siswi berprestasi. Namun rasa itu memudar ketika duduk di bangku SMA. Tapi ini cinta platonik atau cinta monyet ya?

Cinta platonik berikutnya, tentu saja pada mantan kekasih. Perempuan dewasa yang pertama kali mengenalkan surga dunia penuh keindahan. Melodi syahdu penuh cinta tak akan pernah terlupakan. Sehingga ketika benang cinta yang dipintal tak lagi bisa dirajut, maka perasaan cinta platonis pun ditumbuhkan. Memandangnya tetap dengan perasaan penuh hangat bila bertemu mata, dan menaruh segala rasa hormat yang tak terperi. Sebuah cinta yang tak akan pernah hilang dalam ingatan dan disimpan dalam lubuk hati yang terdalam.

Kemudian cinta platonik yang berikutnya? Disuguhkan pada seorang perempuan, seorang perempuan bersuami, sekaligus seorang ibu yang telah melahirkan dua anak dari rahimnya. Seorang perempuan yang dulunya dikenal dalam barisan aktivis perempuan yang pernah bertutur lembut bahwa menjadi perempuan yang mencintai perempuan lain adalah sebuah pilihan. Pilihan perjuangan atas nama feminisme. Sementara diri ini selalu menganggap bahwa kesanggupan mencintai perempuan lain dengan penuh rasa adalah sebuah anugerah, pemberian dari Sang Maha Kuasa.

Segala pikiran, ide, kata-kata dan tindakan yang diambil oleh sahabat perempuan yang satu ini menjadi sebuah inspirasi yang berharga untuk makin memaknai arti cinta, perjuangan, pengorbanan, dan sebuah realitas kehidupan yang tidak selalu manis dan juga terkadang berbalut kegetiran dan rasa pahit. Seperti juga hidangan lain, ketika sudah disuguhkan tidak selalu hidangan tersebut harus dicicip oleh sang tamu. Demikian juga cinta platonik kali ini, usai disajikan dengan penuh rasa cinta, tidak perlu diucapkan berlebih. Biarlah rasa cinta ini mencari dan menemukan jalannya sendiri. Mencintai dengan segala rasa penuh ketulusan. Penuh pendar-pendar hangat yang perlahan namun pasti tersampaikan.

@SepociKopi, 2007

Labels: , ,

posted by alex, 10:43 AM
Visitor Number: