<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\0755069022822139517350\46blogName\75sepoci+kopi\46publishMode\75PUBLISH_MODE_BLOGSPOT\46navbarType\75BLUE\46layoutType\75CLASSIC\46searchRoot\75http://sepocikopi.blogspot.com/search\46blogLocale\75en_US\46v\0752\46homepageUrl\75http://sepocikopi.blogspot.com/\46vt\75-6193618228055375371', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

Cerpen: Tahi Lalat Di Punggung Istriku

Monday, November 10, 2008

Tahi Lalat Di Punggung Istriku
Oleh: Ratih Kumala
Dimuat di Kumpulan Cerpen Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006)

Ada tahi lalat di punggung istriku. Cantik sekali. Tepat di sebelah kiri atas punggung, mendekati pundak. Itu adalah tahi lalat terseksi yang pernah kulihat. Perempuan-perempuan mungkin bisa punya bermacam tahi lalat yang cantik; di dada, di pinggir ketiak, di atas bibir, di dagu, tapi tak ada yang secantik tahi lalat di punggung istriku.

Aku ingat kali pertama melihat tahi lalat itu, dua puluh tujuh tahun yang lalu. Itu adalah malam pertama setelah siangnya pernikahan dilangsungkan. Hari yang sangat bahagia bagi kami. Malam itu pertama kali kami betul-betul polos tanpa busana. Saat aku masuk ke dalam tubuhnya, saat itulah aku mengelus punggungnya dengan lembut, menekan lebih erat ke tubuhku. Aku dapat merasakan istriku kesakitan. Tahi lalat itu teraba olehku, seperti batu kecil yang empuk menempel di kulit punggung istriku. Saat kami selesai bercinta babak pertama, aku menciumi seluruh tubuh istriku. Dia tertawa kegelian, aku menciumi punggungnya. Saat itulah aku melihat pemandangan yang membuatku takjub; tahi lalat di punggung istriku. Tahi lalat yang sangat cantik. Seketika, aku jatuh cinta lebih dalam pada istriku karena tahi lalat itu. Lalu kami bercinta lagi, babak kedua.

Semenjak itu aku punya hobi baru; menciumi punggung istriku. Saat ia tidur, saat ia mandi, bahkan saat di dapur dan masih berpakaian. Aku akan menciumi punggungnya hingga membuat ia tertawa kegelian dan aku tahu betul di mana letak tahi lalat itu walau ia sedang berpakaian lengkap sekali pun. Aku kadang menggodanya menyentuh punggungnya saat si mbak tukang pijat langganan istriku datang untuk memijat tubuh istriku yang telanjang. Si mbak itu tertawa-tawa melihat keakraban kami.

“Kenapa kau suka sekali menciumi punggungku?” tanyanya suatu hari. Aku ingat itu di tahun pertama pernikahan kami dan kami belum punya anak.

“Tahi lalat di punggungmu cantik sekali. Aku ingin selalu menciuminya,” jelasku, istriku waktu itu tersipu-sipu atas jawabanku.

Suatu hari aku pernah hampir berselingkuh (tentu saja istriku tak tahu perihal ini), kolegaku membawakan perempuan untuk iming-iming pelicin proyek kerja. Kami sudah masuk ke kamar hotel bintang lima, sebuah suite yang dipesan khusus untukku. Aku tinggal pakai saja, katanya waktu itu sambil terkekeh-kekeh nakal. Jujur, malam itu aku sudah hampir menyetubuhinya; perempuan tinggi semampai bak model (atau mungkin dia memang betul-betul seorang model), dengan wajah yang kebarat-baratan dan dada yang besar. Saat dia berbalik dengan tubuhnya yang setengah telanjang, aku melihat dia juga punya tahi lalat di punggung. Aku langsung teringat pada istriku, ia juga punya tahi lalat di punggungnya. Jauh lebih cantik dari tahi lalat perempuan ini, pikirku. Aku membatalkan semua, berpakaian lalu keluar dari hotel menuju mobil yang kuparkir di halaman. Perempuan itu marah-marah melihatku meninggalkannya dalam keadaan telanjang dan tak disentuh. Kolegaku berusaha menahanku dan membujukku dengan wajah khawatir proyek tak diloloskan, bahkan meminta maaf berkali-kali. Aku pulang, bercinta dengan istriku habis-habisan. Dan besoknya, proyek itu kuloloskan.

Aku sangat jatuh cinta pada istriku karena tahi lalat itu. Berahiku meluap-luap setiap aku teringat atau melihat tahi lalat itu. Hingga suatu malam, saat kami akan bercinta dan aku mulai menciumi punggung istriku, aku tak menemukan titik hitam sekecil apa pun di punggungnya. Aku kaget bukan kepalang.

“Ma, mana tahi lalatmu?” tanyaku dengan mata awas menyusur seputar punggung istirku mencari tahi lalatnya di sana-sini, kalau-kalau tahi lalat itu pindah tempat.

“Tahi lalat apa?”
“Tahi lalat di punggungmu.”
“Ah, Papa suka ngaco. Hayo, tahi lalat siapa? Di punggung siapa?” tanyanya dengan wajah ngambek.
“Ya tahi lalatmu di punggung. Di sini,” kataku sambil menunjuk satu titik di sebelah kiri atas punggungnya mendekati pundak.
“Aku tidak pernah punya tahi lalat di punggung,” sanggahnya.
“Tidak mungkin. Ada kok, yang biasa aku ciumi itu lho…!” aku mulai gemas dan kesal.
“Tidak ada, Pa. Aku tidak pernah punya tahi lalat di punggung!”

Malam itu kami batal bercinta. Itu adalah kali pertama aku tak bergairah setelah dua puluh tujuh tahun kami menikah. Aku kesal dan langsung beranjak tidur. Istriku juga kesal, kami tidur saling memunggungi setelah berpakaian lengkap. Aku pejamkan mataku rekat-rekat berharap itu cuma mimpi.

Malam berikutnya, kami mencoba bercinta lagi. Aku bahkan sudah tak ingat kalau kemarin malam tahi lalat itu tiba-tiba hilang. Aku kembali menyusuri tubuhnya yang mulai keriput, lalu menciumi punggungnya. Sekali lagi, aku tak menemukan tahi lalat itu di sana. Kembali aku tanyakan pada istriku ke mana tahi lalat di punggungnya hilang. Seperti malam sebelumnya, aku mendapat jawaban yang sama bahwa dia tak pernah merasa punya tahi lalat di punggung. Sekali lagi aku tak bergairah, kami gagal bercinta lagi dan tidur saling memunggungi lagi. Aku mulai betul-betul kesal, sambil memejamkan mataku aku berpikir ke mana tahi lalat itu. Aku ingin memastikan tahi lalat itu pindah ke mana.

Esoknya, dimulailah hari-hari penyidikanku. Aku sengaja meraba punggung istriku saat di dapur, meraba punggungnya saat dia menonton televisi, aku mengikutinya mandi dan mencari-cari di seputar punggungnya ke mana gerangan tahi lalat itu pergi. Aku perhatikan baik-baik punggung istriku yang telanjang saat dia sedang dipijat. Tapi tak juga kutemukan di mana tahi lalat itu. Lalu kupikir, mungkin tahi lalat itu betul-betul pindah tempat. Maka aku mencari di setiap sudut tubuh istriku. Berharap jika menemukan tahi lalat itu ingin kubujuk untuk kembali ke tempat semula. Mulailah, setiap malam selama sepuluh hari aku menelanjangi istirku, menyusuri tubuhnya dan akhrinya terpaksa menyetubuhi istriku dengan berahi yang hanya setengah, karena setengahnya lagi rasanya telah pergi bersama dengan hilangnya tahi lalat itu. Aku betul-betul penasaran sekaligus sangat merasa kehilangan atas tak adanya tahi lalat di punggung istriku. Aku cari di bawah ketiaknya, di antara rambutnya yang mulai memutih, di selangkangannya yang mulai keriput, di telapak kaki yang pecah-pecah tumitnya, di antara jemari, di lipatan pahanya, tapi tak juga kutemukan. Resmi sudah; aku putus asa.

Hari-hari kujalani dengan tanpa gairah. Aku laksana remaja yang baru ditinggal pacar. Aku pergi ke kantor tanpa ada keinginan untuk bekerja, pulang melihat istriku dengan tubuh yang tak seindah dulu lagi. Rasanya istriku dulu lebih muda, cantik dan menggairahkan daripada sekarang. Aku tak bergairah. Tak lagi kusentuh istriku. Kuhubungi kolegaku yang dulu pernah membawakanku wanita panggilan. Kuminta ia menghubungi perempuan yang sama dan mem-booking sebuah hotel berbintang lima. Perempuan yang tinggi semampai bak model dengan dada besar itu berdiri di hadapanku dengan telanjang, kuminta ia berbalik. Kupandangi tahi lalat di punggungnya, tak sama. Sesaat aku mengamati dan berharap kalau-kalau itu adalah tahi lalat istirku, tetapi bukan. Betapa aku sangat merindukan tahi lalat di punggung istriku. Tahi lalat tercantik yang pernah ada yang kini hilang entah ke mana. Walaupun istriku menyangkal berkali-kali bahwa dia tak pernah punya tahi lalat itu, aku sangat yakin selama dua puluh tujuh tahun perkawinan kami, hampir setiap malam aku menciumi tahi lalat di punggungnya. Malam itu, aku bercinta semu dengan perempuan itu, menciumi punggung wanita panggilan itu hingga membuatnya tetawa geli. Membayangkan aku bercinta dengan istriku yang masih memiliki tahi lalat di punggungnya. Lalu pulang dan tidur hingga siang. Aku absen kerja.

Hari-hari berikutnya, aku mulai merasa gila. Aku kurus karena tak makan. Rinduku pada tahi lalat itu semakin menjadi-jadi. Tak lagi kusentuh istriku. Saat aku melihatnya tidur, aku hanya seperti melihat seonggok tubuh. Tak bergairah. Kucoba menatap wajahnya rekat-rekat, mencari sisa-sisa kemudaaan di antara wajahnya yang mulai merenta. Sebetulnya istriku masih cantik, tubuhnya juga tak lantas jadi gembrot. Garis wajahnya yang mulai tegas menunjukkah dia perempuan yang matang. Tapi kenapa aku tak bergairah padanya? Aku sama sekali tak terberahi. Sekali lagi, aku mengelus punggungnya dengan lembut, membuat istriku sedikit bergerak dalam tidurnya. Tapi tak kutemukan tanda-tanda tahi lalat itu ada. Masa kah aku salah selama dua puluh tujuh tahun ini? Lantas siapa perempuan yang memiliki tahi lalat di punggung itu? Aku yakin dia istriku. Aku tak mungkin salah! Tak mungkin! Tapi suara istriku yang berkata ‘aku tak pernah punya tahi lalat di punggung’ terus mengiang-ngiang di telingaku. Kacau sekali pikiranku. Aku merasa mulai jadi gila.

***

Aku tahu, suamiku sangat mencintai tahi lalat di punggungku. Seksi, katanya. Katanya juga, itu adalah tahi lalat tercantik yang pernah dilihatnya. Dia sangat suka meraba punggungku, berlama-lama menciumi punggungku dan tahi lalat itu. Dia juga kerap menyemburkan spermanya di atas tahi lalat itu saat kami bercinta. Hingga suatu hari, aku tak pernah lagi diciumnya. Dia hanya menciumi punggungku. Dia lupa mencium bibirku atau keningku atau pipiku. Aku harus memintanya dulu untuk mencium bibirku, jika tidak dia tak akan ingat. Setiap ada kesempatan, dia selalu mencium punggungku. Aku mulai membeci tahi lalat di punggungku, aku cemburu.

“Angkat saja, Jeng…,” kata Ratri suatu hari saat dia sedang memijatku, perempuan paruh baya yang tak pernah menikah itu sudah sepuluh tahun ini menjadi tukang pijat langgananku. Aku bercerita padanya perihal suamiku dan tahi lalat di punggungku.
“Angkat?”
“Iya, pakai laser. Ada lho teknologi seperti itu.” Lalu Ratri menjelaskan bahwa tetangganya yang punya tahi lalat di hidung juga mengangkatnya dengan laser. Harganya memang sedikit mahal, tapi tak berbekas dan tak sakit. Maka, siang saat suamiku kerja aku diantar Ratri ke dokter kulit untuk mengangkat tahi lalat di punggung.

Benar saja, malam saat suamiku mengajak bercinta dia mencari-cari tahi lalat itu. Kubilang saja bahwa aku tak pernah punya tahi lalat, sebab aku tahu jika aku mengaku telah membuang tahi lalat itu dia akan marah besar. Hari-hari selanjutnya kubiarkan dia penasaran mencari tahi lalat itu, kupikir dia akan pulih dengan sendirinya tetapi ternyata aku salah. Suatu pagi, saat aku mencuci pakaian suamiku yang hari itu absen kerja karena tidur hingga siang, kucium parfum perempuan di baju kerjanya. Ada rambut ikal panjang pula yang menempel di celana dalamnya. Pasti suamiku selingkuh! Pasti!

Aku menangis, tiba-tiba merasa menyesal telah membuang tahi lalat itu. Hari-hari kujalani tanpa gairah. Suamiku pulang-pergi ke kantor dengan dingin. Dia tak pernah menyentuhku, tak juga menyentuh punggungku. Tak menciumku pula.

“Gimana ini, Jeng?” Aku mengeluh pada Ratri tentang suamiku saat dia sedang memijatku. Aku telanjang tengkurap sambil menangis. Ratri lalu menghentikan pijatannya. Aku duduk, menutup separuh tubuhku dengan handuk, selembar tisu diberikan padaku. Kuusap air mataku.

“Sudah, Jeng. Sementara lupakan dia.” Ratri berkata dengan lembut, lantas dipeluknya aku. Aku menangis di pundak Ratri. Kurasakan napasnya yang hangat di tengkukku, dan bibirnya lembut seketika menempel di leherku. Dia menarik handukku, menyentuh dadaku dengan lembut. Ada sentuhan yang lama kurindukan di situ.

-rk-
@SepociKopi, 2008

Tentang Ratih Kumala:
Ratih Kumala, lahir di Jakarta 4 Juni 1980. Ia menyelesaikan studi dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa, memperoleh hadiah ketiga Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003, dan diterbitkan oleh Penerbit Grasindo, 2004. Novel keduanya, Genesis, diterbitkan Insist Press tahun 2005. Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2006.
Selain menulis novel dan cerita pendek, Ratih juga tengah menyelesaikan sebuah novel grafis dan menulis skenario untuk acara televisi Jalan Sesama (yang merupakan versi Indonesia Sesame Street). Saat ini tinggal di Jakarta bersama suaminya, penulis Eka Kurniawan.

NB: Redaksi SepociKopi berterima kasih pada Ratih Kumala atas izin pemasangan cerpen di sini.

Labels:

posted by alex, 2:05 PM
Visitor Number: