<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=5069022822139517350&amp;blogName=sepoci+kopi&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://sepocikopi.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://sepocikopi.blogspot.com/&amp;vt=-6193618228055375371" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

Bengkel Menulis: Kesalahan-kesalahan Penting Pada Cerpen Perjuangan

Thursday, March 19, 2009

Oleh: Lakhsmi

(...sambungan dari tulisan sebelumnya)

Menulis cerpen merupakan kegiatan yang sering kali dianggap mudah sebab cerpen sifatnya instan dan pendek. Karena dianggap mudah, maka cerpen (bersama puisi) sering kali dijadikan ajang sumber informasi demi suatu tujuan mulia: mengangkat, merekam, dan menukik dunia homoseksual bagi masyarakat. Tidak ada salahnya seorang lesbian menulis tentang dunia lesbian. Pastinya dia "sangat mengenal hidup itu" sehingga mengerti apa yang hendak dibawakannya dalam cerpen. Berpatokan dengan pemikiran itu, terciptalah sindiran yang berbunyi "penulis heteroseksual tidak mampu menulis kisah homoseksual'. Benarkah? Aku tidak setuju. Pengalaman pribadi tidak pernah menjamin sebagai landasan hasil karya yang bagus. Sastra tidak mungkin hanya bertopang pada pengalaman pribadi. Bayangkan apa yang terjadi jika novel pembunuhan cuma bisa tampak “nyata” apabila ditulis oleh para pembunuh atau mantan pembunuh.

Sejauh ini aku sering diajak mengobrol oleh beberapa teman lesbian yang menganggap cerpen XYZ bagus sebab mewakili perasaan mereka; sebab seperti itulah dunia lesbian. Dengan bersemangat aku pun membaca cerpen yang dimaksud dan kembali aku harus menelan kecewa sebab cerpen itu di bawah standar, tidak mungkin berkompetisi dengan cerpen-cerpen heteroseksual lainnya yang berkualitas jauh di atasnya. Cerpen lesbian yang baik adalah cerpen yang dapat “menaklukan” hati pembacanya - bukan pembaca homoseksual tapi pembaca heteroseksual - berhasil menyelinap masuk ke jantung hati mereka serta hidup di kepala mereka.

Sayangnya inilah yang sering kali diabaikan oleh pembaca lesbian yang tidak dapat membedakan mana cerpen perjuangan yang berkualitas baik dan mana yang tidak baik. Kita semua menjadi sangat terpesona dengan cerpen-cerpen lesbian berkualitas rendah yang muncul di mana-mana, memberikan pujian-pujian, harapan, bukan guidance kepada para penulisnya yang notabene juga lesbian. Padahal kenyataannya pujian adalah aktivitas pemasungan kualitas untuk menjadi lebih baik lagi. Kritik sastra ditiadakan sebab kita selalu berpikir kritik adalah pil pahit buat komunitas kita. Kritik sastra selalu dihubungkan dengan penilaian subyektif si pelaku, bukan obyektivitas. Kritik sastra dianggap menghakimi dan menghina penulis lesbian yang notabene sesama sista. Inilah "placebo" atau "impian siang bolong" dalam dunia sastra homoseksual yang menciptakan lingkaran hantu yang tak berkesudahan, yang buntutnya tidak pernah berhasil menaikkan kualitas sastra homoseksual di masyarakat. Hasilnya? Cerpen-cerpen lesbian yang ditulis oleh cerpenis lesbian tidak mampu berdiri selevel dengan cerpen-cerpen heteroseksual lainnya.

Ini adalah kesalahan nomor tiga; salah satu kesalahan penting yang selalu aku temui di semua cerpen-cerpen lesbian. Karena opini komunitas lesbian yang meyakinkan diri bahwa hanya lesbian yang sanggup menulis karya sastra (khususnya cerpen) lesbian, maka tujuan cerpen tersebut hanya untuk dibaca dan dimengerti oleh kalangan sendiri yang terbatas.

Cerpen – karena keterbatasan tempat, maka cerpen harus memiliki jumlah karakter atau tokoh yang terbatas serta harus berpusat habis-habisan pada tokoh utama. Cerpen yang baik berkonsentrasi pada petualangan/pengalaman/aksi si karakter ini. Terburu-buru menggeserkan lampu sorot dari tokoh utama ke tokoh lainnya tanpa transisi yang baik atau tanpa memiliki arah dan tujuan sering kali terjadi pada penulis pemula yang tak sabar ingin "menuliskan segala-galanya" yang menjadi kegelisahan hatinya.

Misalnya cerpen Tukang Cukur karya Gus Tf. Sakai. Dari judul pun, penulis jelas memberikan fokus terang benderang kepada "tukang cukur" yang menjadi sumber cerita. Pembaca diajak memasuki labirin pikiran tokoh utama, mengerti kegelisahannya, melihat dunia dari matanya. Bayangkan jika tiba-tiba sang pengarang mengalihkan fokus cerita dari pemikiran si tukang cukur kepada tukang bajaj. Sangat tidak nyambung.

Kesalahan ini menjadi kesalahan nomor empat, arah cerita tidak terkontrol dengan baik melalui pusat cerita pada tokoh utama.

Menulis cerpen lesbian bukan sekadar mempaparkan alasan-alasan MENGAPA si tokoh utama melakukan ini atau itu, melainkan BAGAIMANA. Dalam pertanyaan "bagaimana" ini, penulis yang baik akan menciptakan petualangan panca indra kepada pembaca. Pembaca seakan-akan dapat melihat, menyentuh, mendengar, merasa, dan mengecap seluruh peristiwa yang terpampang di depan mata. Paragraf yang mati, yang tidak bergerak adalah paragraf yang dibangun tanpa aksi dan hanya terdiri dari informasi saja. Padahal informasi yang penting seharusnya menyusup di antara cerita dengan halus.

Misalnya, seorang lesbian hendak menulis tentang cerpen yang bercerita tentang kisah tahun 2106, ternyata bumi sedang kejangkitan virus homoseksual. Virus homoseksual ini ternyata menyerang melalui udara dan berasal dari planet Momo. Informasi tentang bagaimana virus melipatgandakan dirinya tidak perlu dipaparkan secara logis maupun gamblang, tapi dapat menyusup ke dalam percakapan sehingga terasa menjadi "real drama". Dramatisasi tidak dapat "disebut" begitu saja, melainkan harus "ditunjukkan". Pembaca fiksi selalu ingin menjadi saksi sebuah peristiwa, bukan sekadar membaca penuturan peristiwa.

Contoh:

Lelaki itu tertegun mendengar perkataan dokter beberapa saat. Lalu dia meraung, menarik kerah dokter, dan menjerit, "Apa katamu, Dokter? Dengan kata lain, Anda mengangkat tangan? Dokter macam apa itu?! Dokter macam apa yang tidak dapat menjelaskan mengapa laju virus dari Momo ke Bumi tidak dapat dikendalikan?"

Bandingkan dengan:
Lelaki itu tampak kehilangan kata-kata, tapi tidak lama dia bertanya kepada dokter dengan kesal mengapa laju virus dari Momo ke Bumi tidak dapat dikendalikan padahal virus tersebut termasuk virus yang mudah ditemukan.

Kesalahan nomor lima dalam cerpen lesbian adalah kelemahan dalam melakukan dramatisasi.

Tips menulis yang berhasil aku rangkum dalam dua tulisan tentang menulis cerpen pada edisi ini sebenarnya berasal dari berbagai sumber di internet. Untuk calon penulis lesbian yang sangat ingin belajar menulis sastra dengan lebih baik lagi, silakan bertanya kepada Google atau Yahoo! agar mendapat arah yang lebih tepat. Gudang informasi terbuka luas di sana. Selain itu, silakan juga membaca rubrik aneka cerpen yang kami posting setiap bulan: cerpen-cerpen LGBT yang berhasil menembus media umum dan berdiri sejajar dengan anggun bersama cerpen-cerpen umum lainnya. Baca ulang dan teliti membongkar cerpen bagaimana penulis-penulis ini sukses membawa dan mendobrak karya sastra homoseksual ke level masyarakat heteroseksual.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2009

Labels: , ,

posted by SepociKopi, 10:21 AM
Visitor Number: