Bengkel Menulis: Mari Menulis Cerpen Perjuangan!
Thursday, March 12, 2009
Oleh: LakhsmiSeni memiliki kekuatan luar biasa yang mampu mengubah peradaban manusia. Sayangnya di negeri ini, seni masih dianggap sebelah mata dan tak berguna. Padahal sama seperti sains, seni mempunyai teori, teknik, dan hitungan matematisnya yang rumit dan indah. Karena tidak mengerti betapa kompleksnya seni, banyak orang menganggap seni sebagai hal yang mudah, murah, tidak penting, dan tidak layak.
Lihatlah sekeliling kita! Dengan menganggap seni sebagai hal nomor dua, banyak sekolah yang mendewakan sains sebagai hal terunggul dalam segala hal. Gedung-gedung kesenian terlantar. Profesi pekerja seni dianggap seperti gelandangan yang tidak menghasilkan uang. Arts performance sebagai bagian dari napas seni terlupakan. Aktivitis-aktivis lesbian berlomba-lomba memasukkan topik-topik perjuangan ke dalam cerpen atau novel kemudian hanya berakhir dengan jargon-jargon garing mereka. Seni dibantai. Seni dipinggirkan. Seni dikencingi. Seni diperkosa beramai-ramai. Jadi bukankah tepat jika kita dapat mengatakan: anti-kekerasan terhadap seni? Artinya, jangan memanfaatkan seni sebagai sapi yang tak diberi makan layak, tapi dipaksa bekerja mati-matian demi ladang yang harus dibajak.
Sebab itu, Bengkel Menulis kali ini akan memberikan beberapa artikel praktis tentang teknik bagaimana memahat cerita pendek. Cerita pendek merupakan medium sastra yang jika dihormati dan dibangun dengan presisi tepat dan indah akan menghasilkan gaung perjuangan luas dan merambah langsung ke hati masyarakat. Menyentuhnya, membagi pandangannya, membuka perspektif. Tidak tertutup kemungkinan, sepotong cerpen dapat menghidupi manusia hingga ratusan tahun ke depan.
Sebenarnya aku skeptis dengan segala sesuatu yang berbau tips dan ajaran praktis, apalagi kalau kita berbicara tentang sastra. Tapi setelah memperhatikan dan membaca puluhan karya lesbian tentang lesbian, walaupun karya-karya itu unik, aku tetap menemukan masalah yang sama lagi dan lagi. Pada topik cerpen kali ini, aku akan menyentuh bagian paling dasar tentang definisi cerpen serta prinsip-prinsip utamanya dan kesalahan-kesalahan dasar penulis pemula. Selanjutnya pada kesempatan lain, aku akan menyentuh tentang berbagai hal lain, seperti mendramatisasi cerita, plot, karakter, waktu, konflik, dialog, dan lain-lain.
Mari kita mulai dengan satu pertanyaan: apakah cerpen itu?
“Cerpen adalah karya kreatif (sastra) pendek yang lebih singkat daripada novel dan biasanya terdiri dari karakter yang jumlahnya terbatas. Cerita pendek menampilkan satu atau beberapa episode (babak) pada keseluruhan isinya. Bentuk cerita pendek adalah bentuk ekonomis dari suatu kisah sehingga latar belakang cerita, aksi, dan narasi tidak berkembang dengan sempurna di dalamnya.”
Ada enam poin penting yang membangun cerpen menjadi karya sastra yang bagus dan indah. Poin ini selayaknya menjadi familiar bagi para cerpenis pemula atau cerpenis wannabe. Poin ini akan membantu memahami mengapa beberapa cerpen menjadi karya yang datar atau beberapa karya lain menyenangkan. Tanamkan keenam poin ini di dalam benak sehingga mampu menilai, memperhatikan, bahkan mulai menulis sebuah cerpen. Inilah enam poin penting yang mendefinisikan cerpen baik:
1. Cerita dibagi via pandangan karakter utama di mana para pembaca segera mengenalinya dengan mudah.
2. Konflik biasanya segera dimunculkan pada awal kisah, paragraf pertama atau kedua.
3. Pembaca harus berhasil dibuat bertanya-tanya dan penasaran bagaimana karakter utama akan menyelesaikan konfliknya.
4. Klimaks akan muncul pada akhir cerita di mana konflik akhirnya terselesaikan. Klimaks menggantikan konflik.
5. Cerita harus berpusat pada satu peristiwa, tempat di mana pusat krisis itu berlangsung dalam hidup karakter utama.
6. Cerita dijalin melalui karakter utama tanpa campur tangan si pencerita.
Penulis Amerika John Irving berkata dalam majalah Times tanggal 23 Maret 1996:
Setiap kali menulis, aku selalu berpikir bahwa aku menulis untuk seseorang yang tidak kukenal. Usia tak diketahui, mungkin dia adalah seorang tua yang bukan penyabar seperti layaknya orang tua yang tidak pernah bisa sabar; atau mungkin juga seorang anak muda yang tidak terlalu muda untuk menyetir mobil, yah sekitar 15 tahun, umur yang lagi rumit-rumitnya, dan juga tak sabaran menghadapi segala sesuatu sebab baginya hidup selalu memberi kejutan baru. Aku berpikir bahwa prinsip utamanya adalah mendapatkan perhatian orang itu dan tidak kehilangannya. Orang itu alias Sang Pembaca mempunyai jutaan hal menarik dan penting lain yang dapat dia lakukan. Kalau kamu sebagai penulis tidak memedulikan orang tersebut malah sibuk bermain-main dengan dirimu sendiri, saat kamu menoleh ke dia, pasti si dia sedang asyik membaca buku lain atau menonton televisi, mungkin juga pergi ke bioskop atau malah tenggelam tidur.
Ingatlah selalu kepada pembaca (asing, yang tak kaukenal sama sekali yang pastinya berbeda dengan dirimu alias bukan lesbian) yang pada akhirnya akan menilai dan mengapreasiasi tulisanmu. Jika kamu menulis untuk sesama sahabat sistahood yang hanya mampu berkata “Bagus, bagus! Cerpen ini gue/kita banget! Keren deh!” lupakan saja niat ingin menghasilkan cerpen indah, apalagi cerpen perjuangan yang (konon katanya) memiliki tujuan mulia-luhur-mumpuni yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat.
Jadi, inilah kesalahan PERTAMA penulis cerpen perjuangan pemula. Mereka masturbasi, melupakan, mengabaikan, tak memedulikan Sang Pembaca.
Mari melanjutkan. Ketika memulai paragraf pertama, langsung masuk ke area detil, jangan bertele-tele dengan “mengisi informasi” saja. Yang dimaksud dengan area detil adalah menciptakan waktu dan tempat yang sangat spesifik. Lupakan generalisasi, pembaca ingin mengetahui AKSI, bukan cuma INFORMASI.
Contoh: Langit biru dengan awan-awan yang berarak. Matahari terang benderang memberikan pagi indah yang tiada duanya. Burung-burung berkicau. Rumput basah oleh embun. Boni membuka mata dan mengulet. Boni adalah seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang sedang jatuh cinta dengan perempuan lain. Dia senang dengan pagi dan basket.
Judul cerpen yang tepat untuk opening seperti ini adalah Cape Deh!
Lebih baik memulainya dengan: Boni membuka mata lima detik sebelum beker berdering keras. Matanya langsung menangkap kalender yang tertera di sebelah ranjangnya. Tanggal 12, hari Rabu. Cihuy! Boni senang hari Rabu. Hari Rabu adalah hari Cinta, sebab dia akan bertemu dengan Cinta, teman antarkelas yang bergabung dengan klub Basket. Udara cerah, berarti latihan bersama tidak akan tertunda.
Pada contoh pertama semuanya berisi informasi tak berguna yang membosankan. Apa fungsi pagi yang indah? Apa gunanya mendikte pembaca tentang usia Boni dan romantisnya dia saat bangun pagi dan jatuh cinta dengan perempuan? Pembaca akan tersinggung dengan penulis yang sok tahu dan segera meninggalkan cerpet tersebut untuk melakukan jutaan pekerjaan lainnya yang menanti mereka. Bandingkan dengan contoh kedua. Contoh kedua langsung mengenalkan si karakter utama kepada pembaca (Boni) dan juga langsung menuju konflik yang dibangun oleh penulis. Pembaca digiring untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi antara Boni, Cinta, hari Rabu, dan Klub Basket. Semua hanya dirangkum dalam satu paragraf pertama.
Inilah kesalahan KEDUA penulis cerpen perjuangan pemula. Mereka memulai cerita dengan opening yang lemah.
Masih banyak lagi kesalahan-kesalahan pada cerpen-cerpen perjuangan (baca: cerpen lesbian) yang aku baca. Kesalahan-kesalahan yang membuat cerpen tersebut menjadi garing seperti kerupuk, lembek seperti nasi basi. Dua kesalahan di atas adalah prolog sederhana dari kumpulan kesalahan yang terabaikan. Karena tempat terbatas, aku akan melanjutkannya pada topik Bengkel Menulis selanjutnya (minggu depan), yang berjudul: Kesalahan-kesalahan Penting Pada Cerpen Perjuangan.
See you next week!
@Lakhsmi, SepociKopi, 2009
Labels: #Lakhsmi, Bengkel Menulis, Hot From The Kitchen









