<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=5069022822139517350&amp;blogName=sepoci+kopi&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://sepocikopi.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://sepocikopi.blogspot.com/&amp;vt=-6193618228055375371" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

Cuci Mata: Mari Berbelanja!

Saturday, March 21, 2009

Oleh: Sidney

Weekend ini seperti biasa aku ke mal. Berjalan tak tentu arah sehabis makan di restoran sushi, aku melihat orang-orang berkerumun dari jarak sepuluh meter. Kakiku bergerak ke sana tidak bisa menahan rasa ingin tahu. Ada apa sih ramai-ramai seperti ada penjualan minyak goreng murah, pikirku. Ternyata bukan minyak goreng yang dijual, melainkan hape Blackberry.

Saking ramainya, perempuan-perempuan cantik mbak SPG yang biasanya diabaikan dan dijauhi kini malah cuma duduk santai sementara orang-orang berbondong mengelilinginya. Bahkan si mbak tampak kewalahan dicecar pertanyaan.

Aku jadi makin penasaran.

Kuhampiri juga gerai penjual Blackberry yang dibundling dengan provider selular itu. Kulihat logo bank yang juga jadi sponsornya. Saking sibuknya menghadapi pertanyaan, si mbak SPG cuma menyodorkan selembar pamflet berisi daftar harga Blackberry. Bold yang mestinya 7 juta lebih dijual "hanya" dengan harga 5 jutaan jika menggunakan poin dari kartu kredit yang disponsori bank yang jadi sponsor di sini.

Wah, mataku langsung hijau. Jantungku berdebar makin cepat. Ini ciri-ciri kalau sedang bersemangat saat menghadapi barang sale atau kena diskon atau murah. Sesaat aku lupa bahwa aku sudah punya Blackberry saking murahnya harga yang ditawarkan. Sayangnya aku sudah punya, kalau tidak pasti menyenangkan pulang dari mal menentang hape baru.

Kulihat bagian kasir sibuk menggesek kartu kredit pembeli yang sampai rela antre untuk mendapatkan Blackberry murah itu. (Bisa kebayang nggak sih orang Indonesia antre?). Kepalaku langsung sakit. Semakin banyak orang membeli barang mahal, semakin banyak "pameran" barang-barang mahal yang dilambai-lambaikan di sana sini. Pasti nanti makin banyak orang yang berpikir sinis terhadap mereka yang berpunya.

Maksudku begini, setiap hari kita membaca koran digempur dengan berita krisis keuangan global (selain berita pemilu tentunya). Tapi melihat ini, kita langsung mempertanyakan berita-berita yang kita baca. Krisis keungan global sepertinya naik andong sampai ke Indonesia. Yeah, berita kolapsnya bank-bank di Amerika memang tampak mengerikan, tapi itu di Amerika, bo! Jauh banget dari Indonesia ya. Bahkan dalam kampanye-kampanye pemilu para capres saja tampak tenang dan tidak membahas soal krisis keuangan ini. Dan lihat saja buktinya, di mal ini ketika orang-orang berebutan Blackberry seperti mengantre beras murah.

Atau cobalah lihat apartemen-apartemen mewah yang ditawarkan di mal dan televisi dengan iming-iming harga naik tgl 23 Maret 2009 jadi segeralah booking sekarang juga dan dapatkan cashback 100 juta atau pendingin ruangan dan kitchen set mewah di setiap pembelian apartemen tipe tertentu. Cobalah terlambat sedikit datang ke kantor pemasarannya, apartemen yang Anda inginkan di lantai tertentu dengan view bagus pasti sudah terjual dengan cash keras.

Atau lihat saja situs hotel bintang supermewah lima plus-plus yang membuka cabangnya di Indonesia. Mereka yakin seyakin-yakinnya tidak mengalami kerugian. Liburan adalah kepentingan urutan nomor buncit bagi mereka yang belum dapat memenuhi sandang pangan papannya. Apalagi liburan mewah. Tapi itu tidak membuat para investor bernyali kecut menanamkan investasi mereka di sini. Bvlgari, St. Regis, Banyan Tree, Four Season, Ritz Carlton adalah salah satu nama-nama kondang yang mempunyai outlet mewahnya di Indonesia.

Dan lihat juga mal pada setiap wiken. Bistro, resto, lounge, cafe mewah tumbuh seperti cendawan di musim penghujan. Mulai dari restoran lokal sampa franchise multimillion dollar yang tempatnya bertebaran di lima benua. Herannya, tempat-tempat itu juga selalu sesak dan penuh. Bahkan untuk beberapa lounge perlu reservasi jauh-jauh hari. Resto yang penuh sesak seperti itu adalah hal yang wajar bagi mereka yang biasa menghamburkan uang untuk kemewahan dan kenikmatan.

Tunggu, jangan sinis! Jangan berkotbah tentang materi dan dunia hedonis. Jangan sebut-sebut kata sombong dan sok pamer. Produsen memang harus mendorong dan mengiming-iming pembeli agar mau mengeluarkan uang. Karena belanja konsumen adalah salah satu cara menghajar krisis keuangan ini. Lihat berita Kompas akhir Januari lalu, tentang pesan untuk menghadapi krisis keuangan: www.kompas.com. Penjualan apartemen mewah akan memberikan lapangan kerja buat ribuan buruh, pembelian Blackberry akan memberikan peluang buat provider selular dan penyedia jasa yang berhubungan dengan teknologi, pembukaan hotel, spa, dan resto baru selalu menyerap ratusan tenaga kerja profesional maupun unprofesional. Semua kegiatan belanja ini akan menumbuhkan perekonomian. Jadi krisis keuangan yang jadi momok pun bisa kita kurangi dampaknya.

Orang kaya selalu menjadi bemper bagi si miskin. Dari hura-hura, kehidupan mewah dan gelimang harta, gaya hidup pamer, dan kegilaan belanja membuka banyak lapangan pekerjaan, memberi makan ribuan orang dan keluarganya, menjamin masa depan kanak-kanak duduk di bangku sekolah, mendorong kompetisi ekonomi, dan memperbaiki nasib orang miskin. Jangan memperlama krisis dengan memarkir uang di bank saja. Geliatkan uang itu, beli investasi sesuatu atau malah, nikmati hidup saja dengan berbelanja.

Jumat malam aku bertemu dengan beberapa teman-teman lesbianku. Teman lesbian A membawa hape iPhone-nya yang terbaru. Teman lesbian B memamerkan mobil CRV-nya yang mengilat baru keluar dari showroom tiga hari lalu. Teman lesbian C memberitahu bahwa pengajuan kredit pembelian apartemen dua kamar tidurnya yang menghadap marina sedang diproses. Dan aku? Apa yang kubeli baru-baru ini? Aku menghadiahkan diriku Louis Vuitton monogram wallet sebab aku mendapat kenaikan jabatan bulan kemarin. Oya, mereka bertiga juga mengajakku berlibur di Kura-kura Resort, sebuah vila mewah di pulau terpencil yang jauh dari keramaian kota.

Jadi tunggu apa lagi? Jika Anda berpunya, peduli dengan orang miskin, dan ingin dampak krisis keuangan global cepat dapat diselesaikan, mulailah belanja dari sekarang.

@Sidney, SepociKopi, 2009

Labels: ,

posted by alex, 10:00 PM
Visitor Number: