Have Your Say: Aku Membenci Diriku!
Friday, March 20, 2009
Pandanglah cermin. Apakah kamu menyukai bayangan yang ditampilkan di sana? Itu adalah dirimu. Bagaimana kalau kamu membenci jasmani yang kamu miliki? Dengarkan cerita sahabat lesbian kita, Billy, yang jijik dengan tubuhnya. Aku sudah merasakan diriku lesbian sejak aku berusaha lima belas tahun. Aku jatuh cinta dengan teman sekelasku, perempuan berambut panjang. Aku sendiri berpenampilan butch dan sangat tomboy. Dari dulu ke-tomboy-anku ini sering menjadi bahan ejekan tante-tanteku. Katanya aku harus menjaga berat badan dan berpenampilan lebih feminin, karena kalau tidak, tidak bakal ada lelaki yang menyukai diriku. Aku tidak peduli. Siapa yang peduli dengan lelaki?
Sewaktu kuliah, aku berjauhan dengan orangtuaku. Mereka tinggal di pulau lain, sementara aku kuliah di Jakarta. Aku nge-kos. Senangnya tinggal berjauhan dengan keluargaku. Aku tidak perlu ribet mengelak pertanyaan-pertanyaan dan godaan-godaan dari saudara-saudara sepupuku tentang penampilanku yang kelaki-lakian.
Di Jakarta, gaya berbusanaku semakin lepas kontrol. Dulu sewaktu aku masih berada di kota kecilku, setidaknya aku masih menjaga penampilan demi keluarga besarku. Tapi karena berada di Jakarta, aku tidak terlalu memedulikan lagi. Rak baju perempuan beserta asesorisnya (jam tangan, sepatu, ban pinggang, tas) telah lama kulewati begitu saja setiap saat aku membeli kebutuhan busana. Aku tidak memedulikan penampilan feminin. Buat apa? Aku, si pencinta perempuan, seharusnya dilahirkan sebagai lelaki. Sebagai pencinta perempuan, aku senang berpenampilan seperti lelaki.
Kesukaanku ngemil semakin membuat bobot tubuhku naik. Aku yang sudah mengalami masalah berat badan sejak SMA, semakin parah sewaktu di masa kuliah. Sebenarnya aku bisa saja memperhatikan pola asupan makananku, tapi karena aku tidak peduli dengan tubuhku, aku tidak melakukan diet apa pun. Maka, tubuhku yang yang sudah punya bakat gemuk, semakin subur tak terkendali. Godaan, ejekan, dan sindiran pun semakin sering tiba di telingaku.
Mulanya aku tidak mempedulikan semua omongan negatif itu. Tapi lama-lama telinga ini gatal juga. Apalagi waktu itu aku sedang naksir-naksirnya dengan seorang teman perempuan di kampus yang sama. Frustrasi rasanya mengetahui teman perempuanku itu tidak sedikit pun melirikku, padahal aku sudah melimpahinya dengan perhatian. Semakin sakit diri ini ketika mengetahui dia berpacaran dengan seorang lelaki yang ngetop di kampus.
Aku hancur. Terluka. Karena stress, aku semakin banyak mengemil. Berat badanku semakin bertambah. Ejekan juga semakin menggila. Dalam keadaan kepepet, aku curhat dengan salah seorang temanku yang kupercaya. Aku coming out ke dia. Tapi, bukannya aku menjadi lega dan beban terangkat, dia malah menganggapku sakit jiwa dan tidak wajar. Temanku itu menjauhiku.
Aku semakin sulit berkonsentrasi kuliah. Kini teman-teman kampus tidak hanya mengejekku sebagai cewek gendut, tapi mereka juga mengejekku sebagai lesbi gendut yang jerawatan. Tidak ada yang mau berteman denganku. Aku kesepian. Aku merana. Tidak ada yang mengerti diriku. Sering, saat aku benar-benar sendirian di kamar kos, aku memaki-maki tubuhku yang mengkhianati hatiku. Mengapa Tuhan memberiku tubuh yang seperti ini? Aku benci dengan diriku; aku benci tubuhku!
Suatu hari, aku nggak tahan lagi. Beban di hati seperti tidak tertanggungkan. IP-ku buruk. Kuliahku terancam DO. Aku tidak punya teman. Aku tidak punya siapa-siapa yang memperhatikanku. Uang yang dikirim orangtuaku selalu pas-pasan untuk hidup di kota metropolitan ini. Aku beberapa kali berhutang dan tiap bulan harus menggali lubang menutup lubang. Aku benar-benar nggak tahan. Aku mau mati saja.
Aku benar-benar bunuh diri. Aku membeli obat tidur belasan butir dan langsung menelan semuanya. Kulakukan di kamar kosku pada malam hari. Aku ingat, hari itu malam minggu. Aku nggak meninggalkan surat apa-apa. Kupikir orangtuaku tidak perlu tahu alasan mengapa aku tidak ingin hidup lagi. Aku cuma ingat rasa ngantuk luar biasa yang menghantam kepalaku. Setelah itu aku hilang ingatan dan (mungkin) terjatuh di lantai.
Ternyata aku diselamatkan oleh anak ibu kos. Aku dilarikan ke UGD rumah sakit dan dibuat muntah yang banyak. Anak ibu kos, yang selanjutnya kutahu namanya Patris, membantu dan menemaniku melewati masa-masa lemahku tergeletak di rumah sakit dan kamar kos. Mulanya aku tidak percaya dengan Patris, kuanggap dia hanya orang yang sama dengan teman-teman kampusku yang sering mengejek dan menghinaku. Patris berusia 4 tahun lebih tua dariku, belum menikah. Awalnya kupikir Patris juga lesbian sepertiku, tapi ternyata belakangan ini aku tahu aku salah. Patris seratus persen straight dan hatinya sangat tulus. Dia mendengarkan ceritaku saat aku mengaku padanya tentang rahasia tergelapku, bahwa aku pecinta sesama jenis.
Patris-lah yang mengajakku ke gereja, berdoa untukku, dan selalu menasehatiku apabila aku bermalas-malasan diet. Dia menyuruhku stop mengemil dan menjaga berat badanku. Aku memang tidak pernah bisa kurus karena gen-gen tubuhku memang sudah besar dari sononya. Tapi dengan semangat Patris, berat badanku turun bertahap beberapa kilogram dan kini bertahan di sana. Aku menjaga agar berat tubuhku seimbang dengan tinggiku. Aku kembali ke kampus, belajar lebih rajin agar nilai-nilai ujianku tidak hancur. Walau Patris selalu mengingatkan dosa atas orientasi seksualku, dia tidak pernah menghalang-halangiku berpacaran dengan perempuan lain. Dia malah selalu ingin bertemu dan berteman dengan sahabat lesbianku.
Mulanya aku curiga dengan Patris. Apa yang diinginkan olehnya dariku? Aku benar-benar seperti binatang trauma yang habis disiksa manusia sehingga butuh waktu untuk memercayai manusia lain. Setelah beberapa saat, aku menerima uluran tangan persahabatan dan kekeluargaan yang disampaikan Patris. Tidak, dia tidak meminta apa-apa. Dia sungguh-sungguh tulus bersahabat denganku. Dia seorang penyebar kabar baik Injil dan tidak pernah ragu-ragu menolong manusia yang terjatuh, tanpa memandang jenis manusia yang ditolongnya.
Tahun kemarin aku lulus dan mendapat gelar SE. Orangtuaku hadir. Sayangnya, sahabat tersayangku Patris tidak bisa hadir. Dia meninggal tepat sebulan sebelum kelulusanku, kecelakaan di jalan tol. Dia meninggal bersama bayi lima bulan yang sedang dikandungnya. Aku ingat aku menangis seperti orang hilang ingatan. Aku menangis terus selama sebulan setelahnya. Bahkan pada kelulusanku, aku menangis mengingat Patris.
Aku sudah bekerja sekarang. Usiaku 25 tahun. Warisan kasih sayang Patris sahabat straight-ku masih menyala. Aku menjaga diri agar tidak (terlalu) gemuk. Aku tahu gemuk belum tentu sehat. Aku menjaga penampilanku agar tetap segar, bersih, dan rapi. Aku bersahabat dengan sahabat-sahabat yang bisa menerima diriku apa adanya. Aku pergi ke gereja dan berdoa kepadaNya. Aku sadar diriku lesbian, menerima orientasi seksualku dengan ilmu iklhas. Dan, aku tidak akan membunuh diriku lagi. Sebab, kini aku tahu, bagaimanan pun aku diciptakan, hidupku ternyata sangat indah.
(Diceritakan oleh Billy, dicatat dan ditulis oleh Lakhsmi)
@Billy, SepociKopi, 2009
Redaksi SepociKopi menerima kiriman kisah pengalamanmu yang mengiris hati namun telah berhasil kau lewati dengan baik. Mungkin ceritamu bisa menjadi sharing berharga buat teman-teman yang lain. Bagi pengalamanmu ke redaksi SepociKopi di jejak_artemis@yahoo.co.id dan alex58id@yahoo.com, dan sebeningembun@gmail.com
Labels: Happy Hour, Have Your Say









