<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=5069022822139517350&amp;blogName=sepoci+kopi&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://sepocikopi.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://sepocikopi.blogspot.com/&amp;vt=-6193618228055375371" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

TAJUK: Bisnis Setan dan Kita

Tuesday, March 24, 2009

Oleh: Nuha Guwa

Negara kita miskin? Siapa bilang? Utang kita banyak? Siapa bilang? Negara kepulauan kita rawan dicaplok negara tetangga? Siapa bilang? Ekonomi kita tidak kuat? Siapa bilang? Sembilan bahan pokok kita mahal? Siapa bilang? Krisis ekonomi dunia? Indonesia tidak takut! Krisis keuangan global yang melanda dunia tampaknya memang bukan momok bagi pemerintah kita. Pasalnya industri rumah tangga di negara tercinta ini berkembang dengan pesat. Malah tumbuh dari pulau-pulau terpencil, dari perumahan-perumahan warga. Di lokasi-lokasi hunian yang tenang dan nyaman. Tak percaya?

Coba lihat, polisi beberapa kali menemukan tempat pembuatan narkoba buatan lokal, yang kualitasnya tidak kalah dengan produk impor! Hasil temuannya hingga ke tempat-tempat yang paling ajaib. Kita tidak pernah menyangka ada industri rumah tangga pengolahan benda-benda haram tersebut di antara rumah-rumah warga. Sabu, putau, ekstasi, dan ganja peredarannya dari rumah ke rumah, dari teman ke teman, harganya juga terbilang lumayan. Meskipun buatan lokal benda-benda menghanyutkan ini tetap dicari orang, diperjualbelikan laris manis. Cara pengemasan pun bermacam-macam, ada yang menyerupai permen, tablet, bentuk bisa bermacam-macam, Winnie the Pooh, Nemo, Teddy Bear, bahkan lambang-lambang partai politik.

Ganja merupakan tanaman rakyat yang sungguh menghasilkan, petani kita bisa meraup banyak keuntungan sekali panen. Mengurusnya pun tidak susah, karena tanaman hutan liar, bijinya disebar ke mana saja, langsung tumbuh. Ditanam di lereng-lereng bukit atau sekitar jurang tidak akan ada yang tahu, begitu tumbuh besar tinggal panen, tidak ada yang akan tahu apalagi dipanen malam atau dini hari. Pedistribusian pun tidak susah, untuk mengelabui petugas, bisa dimasukkan dalam pondasi semen, dibentuk seperti bahan bangunan. Disimpan di dalam dinding mobil. Yang paling gampang adalah dimasak dalam campuran dodol, tinggal makan dodolnya langsung fly.

Membuat sabu dari bahan amfetamin juga tidak susah, meskipun rada diperketat penjualannya di toko kimia. Bisa juga dibeli yang sudah bermerek tertentu kemudian diolah sendiri. Benar-benar sebuah industri yang menjanjikan. Soal kemasan, ya gampang, karena berupa bubuk kristal. Padahal rasanya kalau dimakan langsung getir dan pahit. Tapi para pemakai tahu segala macam cara memanfaatkannya sehingga khasiatnya bisa terasa. Esktasi, apalagi..., pembuatannya malah bisa dilakukan di rumah sendiri. Tinggal membeli bahan baku dan alat mencetak pil. Bisnis murah meriah dan cepat membuat kaya.

Kita juga sudah tahu “penganan” buatan dalam negri ini membuat orang jadi santai, tak produktif, pemimpi, menikmati pengaruhnya selama mungkin dalam pikiran dan darah. Rasanya memang luar biasa. Menegak ekstasi berarti siap mempengaruhi adrenalin untuk bersenang-senang kapan saja. Jika mau kelihatan keren di tempat dugem bisa dance tanpa malu-malu, suka-suka, tentu pil ini teman yang sungguh prima.

Tapi jangan salahkan setelah itu kimia-kimia ajaib tadi menggeser format-format di dalam otak. Jangan heran jika umur sekian-sekian ada saja yang aneh dengan tubuh kita. Pelupalah, pemarah, mudah nervous, selalu merasa cemas, merasa ketakutan dan banyak lagi. Yang paling tidak nyaman tentu kecanduan akan khasiat sesaat tadi. Mencoba sekali mau dua kali, dua kali mau tiga kali, terus dan terus. Jika tak punya uang semua benda di rumah bahkan sampai rumahnya pun dijual demi memenuhi hasrat tadi.

Penjualan benda-benda haram ini pun sudah seperti membeli kebutuhan sembilan bahan pokok, gampang seperti mudahnya membeli beras, gula, ikan, sayur mayur, susu, dan lain-lain. Yang paling mengagetkan tentu saja fakta-fakta temuan polisi mengungkapkan hal ini. Rata-rata para pembawa barang-barang haram ini berwujud perempuan. Diulang dengan huruf besar…”P E R E M P U A N”. Sebuah media nasional kita dengan mendalam mengolah data pelaku tindak kejahatan narkoba berdasarkan pekerjaan dan jenis kelamin. Hasilnya tentu saja tidak baru. Pengangguran dan Perempuan. Sungguh ironis.

Kita para lesbian juga tahu sekali bahwa perempuan memang gemulai aduhai. Sangat lihai mempergunakan kelembutan untuk turut andil dalam jenis industri rumah tangga semacam ini. Tapi sadarkah kita bahwa akan banyak orang yang dirugikan dengan “bisnis jahat” perusak kehidupan ini. Akan jadi apa kita jika masyarakatnya menjadi kaum pengkhayal? Pada usia produktif, 20-40 tahun, malah jadi parasit dalam keluarga. Terpaksa menjadi bayi besar yang harus diurus dan diperhatikan ekstra tenaga. Akan jadi apa negara ini jika setengah dari penduduk kita hidup dari industri sejenis. Pembuatnya kita, pemakainya juga kita. Industri lokal yang kelihatan menjanjikan ini jelas-jelas hanya mampu menopang perekonomian sementara waktu. Ujung-ujung akan habis tanpa bekas. Biaya perobatan dan perawatan pasca kecanduan, merupakan rayap yang siap memakan pondasi apa saja. Kerugiannya jauh lebih besar dari pada uang yang bisa dinikmati sekarang.

Jika begitu benar negara kita miskin, yakni miskin kesadaran. Benar pulau-pulau terpencil kita rawan dicaplok, karena generasi kita sibuk menikmati narkoba, para orangtua-orangtua kiat menjadi pembuatnya untuk menopang kehidupan keluarga. Benar utang negara kita banyak, karena pemerintah sibuk putar sana putar sini agar bisa membayar pinjaman, sehingga tak sempat memikirkan rakyatnya yang semakin menikmati ketergantungan hidup dalam jaringan bisnis setan ini.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

Labels: ,

posted by alex, 2:47 PM
Visitor Number: