<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=5069022822139517350&amp;blogName=sepoci+kopi&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://sepocikopi.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://sepocikopi.blogspot.com/&amp;vt=-6193618228055375371" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

sepoci kopi

Weblog Lesbian untuk informasi, hiburan, opini, esai, dan curhat.

TAJUK: Ponari, Klenik, dan Kita

Tuesday, March 10, 2009

Oleh: Nuha Guwa

Di tengah perputaran absurditas zaman, tiba-tiba muncullah nama Ponari. Tentunya ini bukan plesetan sebuah minuman suplemen penambah cairan tubuh itu, tapi hanyalah seorang bocah berusia 10 tahun yang tiba-tiba menjadi tenar karena sebuah batu yang ditemukannya pasca disambar petir. Entah dari mana pula asal muasal kekuatan itu, konon batu sambaran petir tersebut dipercaya bisa menyembuhkan segala macam penyakit yang datangnya dari semua penjuru mata angin. Nama Ponari pun melejit dalam sekejap, menjadi makanan pers, dan semakin terkenal oleh media yang membesar-besarkan.

Yang paling menggelikan bagaimana para pasien yang mendatangi Ponari masih saja percaya dengan caranya mengobati. Padahal dari tayangan televisi yang menghiasi kaca pemirsa, seorang bocah yang dipercayai bernama Ponari tersebut saat mengobati pasien hanya mencelupkan batu tersebut sambil ogah-ogahan. Ketika mengantuk sekali orangtuanya malah harus menggendong Ponari dan membantu mencelupkan tangannya yang memegang batu ke dalam air pesanan pasien. Yang lucunya lagi, ada adegan Ponari mencelupkan batu ke dalam sebuah gelas dengan cara menungging, atau menyamping badan, bahkan saat ia sedang terlelap. Namun tampaknya hal ini tak begitu dipedulikan warga yang terus saja mendatangi rumahnya.

Banyak pakar kemudian membicarakan fenomenal Ponari ini dari mulai ahli cukur sampai ahli kesehatan. Dari pakar judi sampai pakar politik. Tukang gosip hingga Guru Besar. Perempuan di pasar hingga yang ada di parlemen. Mudah-mudahan ini bukan tanda dunia mau kiamat. Bukan tanda Obama mau dilengserkan. Bukan tanda Pemilu Indonesia akan gagal karena kenaifan manusia Indonesia yang begitu mempercayai tahayul pengobatan ala Ponari.

Tak bisa dinafikan, memang sejak zaman kerajaan dulu, masyarakat Indonesia begitu percaya dengan semua yang berbau mistis, perdukununan, hingga klenik. Dalam budaya-budaya tradisional muncul hari baik hari buruk saat menanam padi, saat menikah, melamar, mendapatkan bayi. Semua diterjemahkan sebagai bagian dari budaya sehari-hari. Batu yang terkena sambaran petir tadi pun didakwa mampu menyembuhkan segela macam penyakit. Masalahnya saat ini bukan lagi zaman jebot yang masyarakatnya belum terjamah handphone atau internet, belum terjamah majalah, surat kabar, televisi, dan radio. Aneh rasanya dunia klenik seperti ini masih saja dipercaya yang prakteknya benar-benar mengabaikan kemampuan akademis dan akal manusia.

Tuhan memang gaib, banyak hal-hal ajaib yang diberikan-Nya pada manusia, tapi semua itu bisa dijelaskan secara intelektual. Bisa dijabarkan dengan keberadaan para nabi. Pasalnya misteri kekuatan Ponari itu yang membingungkan kita semua. Bagaimana kepasrahan pasien agar mendapatkan kesembuhan dengan cara yang sungguh tak bisa dicerna. Bisa jadi jari tangan Ponari memiliki banyak telur cacing, saat dicelupkan ke air, cacing-cacing ini pun berkembang biak dalam perut pasien. Mungkin saja salah satu pasien Ponari terkena flu, maka virus pun berpindah. Seperti tekad pasien yang berusaha untuk sembuh, sehingga mengabaikan kehigienisan, apakah kita juga perlu mengikuti kenekatan ini? Mungkin frustrasi oleh mahalnya biaya medis, eksklusifnya harga pelayanan kesehatan yang memadai, membuat Ponari menjadi salah satu pilihan yang murah meriah untuk dicoba, jadi mengapa tidak?

Banyak yang bersyukur lokasi praktek Ponari akhirnya ditutup. Karena dianggap keajaiban batunya lama-lama bisa meresahkan. Meskipun menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat sekitar yang sempat mengecap ketibaan rezeki dari berdagang minuman dan makanan, namun benarkah dengan ditutupnya praktek Ponari akan menghentikan kegiatan klenik lainnya??? Jawabannya pasti tidak. Orang masih tetap setia mendatangi peramal, dukun, bahkan paranormal untuk mengartikan apa-apa saja yang mereka alami setiap hari. Permintaan mendapatkan jodoh, rezeki, sehat, dan lain sebagainya masih terjadi dari kota metropolitan hingga di pulau-pulau terpencil di Indonesia. Yang kemudian muncul pun bukan hal yang baru pula; ada susuk, jimat, pelaris, dan segala macam penangkal masih eksis sebagai bagian dari penyembuhan, permintaan harapan akan perubahan kehidupan yang lebih baik.

Jangan heran jika dunia percintaan di kalangan lesbian pun tak lepas dari dunia klenik-mengklenik ini. Bahkan ada para orangtua yang mengetahui anaknya seorang lesbian dengan percaya diri membawanya ke dukun yang konon bisa menyembuhkan kelesbianan tersebut. Sementara itu para lesbian yang tersudut oleh masalah percintaan tak urung menerjunkan diri mendatangi tempat-tempat yang secara ajaib bisa memberikan nuansa dan suasana baru bagi kehidupannya. Sungguh ironi, di tengah kemajuan teknologi yang demikian pesat, harapan-harapan semu seperti ini masih sering kita dengar di sekeliling kita.

Mungkin kita lupa, doa orangtua, hidup teratur, bekerja secara giat dan disiplin mampu menciptakan semua mimpi. Untuk sembuh, banyak tempat-tempat nyata yang harapan kesembuhannya lebih masuk akal. Agar hidup sehat tentu dengan menjaga pola makan dan hidup serta menjaga kebersihan lingkungan. Ingin tetap cantik dan disukai banyak orang resepnya sungguh mudah, tidak sombong, percaya diri, dan selalu siap mengulurkan bantuan untuk orang lain. Ingin sembuh dari lesbian? Tunggu dulu, apakah ini penyakit? Jawaban yang satu ini tentu juga tidak dari klenik-mengklenik, bukan dari Ponari, bukan juga psikiater yang bisa memberikan kita valium atau obat penenang lain sehingga lupa sementara dengan kelesbianan tersebut. Semuanya kembali berpulang kepada Dia yang pengasih. Berdoalah agar dengan akal sehat kita, dalam menjalani hidup ini tetap selalu berada di batas kewajaran.

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009

Labels: , ,

posted by SepociKopi, 1:49 PM
Visitor Number: