To Move Forward
Monday, March 16, 2009
Oleh: AlexMelihat kampanye-kampanye partai politik yang sekarang sedang seru-serunya, saya jadi teringat pada kampanye perjuangan lesbian Indonesia. Slogan dan ajakan untuk berjuang dan menuntut hak menjadi bagian yang tampak wajar dalam gerakan lesbian. Tapi sebenarnya siapa yang diajak berjuang di sini? Apakah seluruh lesbian di Indonesia punya tanggung jawab untuk berjuang? Jelas tidak.
Mengajak orang berjuang untuk melawan sesuatu (fighting against) adalah hal yang mudah. Apalagi jika hidup tampak tidak ramah pada kita. Mari berjuang melawan segala ketidakadilan yang membuat hidup kita merana! Fighting against berarti anti atau bergerak ke arah yang berbeda. Jika masyarakat belok kiri, maka mari kita belok kanan. Jika semuanya naik, mari kita turun. Jika semuanya berlari, mari kita diam di tempat. Segala sesuatu yang mapan dicurigai, apalagi kemapanan itu menimbulkan derita bagi sebagian orang. Keadilan selalu dipertanyakan. Adil buat yang satu tidak adil buat yang lain. Maka, diciptakanlah iming-iming untuk kehidupan "lebih baik", seperti seekor kucing dirayu dengan sekeping ikan.
Fighting against sebenarnya lebih mudah karena yang harus dilakukan hanyalah memaparkan "ketidakadilan" yang terjadi di masyarakat. Ketidakadilan seringkali menyentuh tombol nurani manusia. Manusia menjadi tersentuh, terbawa semangat, marah, dan akhirnya terseret. Maka bergabunglah kelompok manusia "sakit hati" dan "sedih" untuk berjuang melawan arus; berharap arus segera berbalik ke arah mereka.
Namun tidak semua orang punya energi untuk terus menerus berjuang seperti ini. Apalagi fighting against berarti melawan angin yang berembus keras. Perjuangan yang harus dilakukan sekuat tenaga dan penuh bahaya. Tentu saja banyak korban berjatuhan. Jika ada korban dalam perjuangan, itu hal yang wajar. Itu adalah risikonya. Namun, ketika roda kehidupan berputar, saat hidup mulai terasa lebih “adil”, saat yang tidak mapan menjadi mapan, saat penderitaan menjadi nyaman, perjuangan melawan ketidakadilan pun terdengar konyol dan berlebihan.
Tapi berjuang tidak selalu berarti melawan. Bukan fighting against tapi fighting for. Maksudnya, bisa juga berjuang demi sesuatu. Nah, mengajak orang berjuang demi sesuatu (fighting for) ini lebih sulit daripada membuat orang untuk marah dan melawan yang telah mapan (fighting against). Perjuangan ini biasanya tidak terpicu oleh sakit hati, tapi oleh keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Dengarkan kalimat klasik para aktivis. Mari kita merapatkan barisan, berjuang demi satu tujuan atas nama satu kesaudarian. Tunggu dulu. Tujuan macam apa, satu kesaudarian seperti apa? Apakah agenda perjuangan kita sama? Dalam dunia “Derita loe ya derita loe deh, jangan ajak-ajak orang menderita!”, orang sering kali menjadi tidak peduli.
Itulah sebabnya komunitas-komunitas lesbian atau para aktivis lesbian tidak pernah cukup untuk menjadi tempat menemukan jawaban atas segala kegelisahan kaum lesbian. Komunitas lesbian kebanyakan hanya digunakan untuk mencari pacar. Sementara aktivis-aktivis lesbian biasanya sudah sibuk dengan agenda perjuangan mereka sendiri.
Jadi bagaimana? Apakah kita harus memilih antara fighting against dan fighting for? Bagaimana kalau kita sama sekali tidak tertarik pada dua-duanya? Apakah kita cuma bisa duduk diam berpangku tangan dan masa bodoh? Ya, tidak semua lesbian mempunyai mental duduk diam dan tak peduli. Banyak dari kita yang ingin melakukan sesuatu, menyumbangkan sesuatu tanpa harus memilih antara fighting against atau fighting for. Yang perlu kita lakukan adalah bergerak.
Bergerak berarti maju ke depan, bukan mundur ke belakang. Inilah yang disebut dengan gerakan alias movement. Movement adalah usaha untuk menciptakan aksi menuju sesuatu yang positif. Kata kuncinya adalah "menuju sesuatu yang positif", tanpa harus melawan (fighting against), tanpa harus berusaha merebut sesuatu (fighting for). Itulah makna dari sebuah gerakan. Gerakan juga bukan asal slogan tapi lebih ke sebuah kegiatan terencana yang dilakukan untuk menginspirasi.
Coming out, contohnya, seharusnya itu menjadi suatu gerakan, bukan perjuangan. Coming out seharusnya menjadi gerakan yang menginspirasi harapan akan kehidupan yang lebih baik dan positif. Coming out juga berarti visibilitas lesbian dalam masyarakat dan terutama bagi kalangan lesbian bahwa kamu tidak sendirian, bahwa kamu bisa punya hidup yang sehat tanpa dirundung rasa bersalah terus-menerus. Coming out seharusnya tidak cuma sekadar slogan kosong yang makin lama terdengar seperti ancaman untuk menjadi lesbian sesungguhnya, atau sekadar ajakan menakutkan yang akhirnya berujung derita.
Cerita-cerita miris kaum lesbian yang awalnya membuat terenyuh, makin hari membuat kita menjadi mati rasa. Cerita itu diekspos berlebihan seakan-akan untuk meminta belas kasihan dan mengemis simpati masyarakat. Bukan menjadi sesuatu yang baik, malah menjadi ajang sindiran dan cibiran. Ada sesuatu yang amat salah dalam hal ini. Sesuatu yang harus diperbaiki secepatnya dalam satu gerakan yang bisa menjangkau banyak orang. Bukan dengan menjadi anti segala sesuatu, bukan dengan melawan darah dengan darah, bukan dengan pergorbanan besar, bukan dengan keinginan untuk merebut sesuatu di masyarakat, tapi dengan cara paling sederhana sejak manusia menemukan bahasa.
Apa itu?
Melakukan kebaikan.
Berapa banyak lesbian yang tenggelam dalam kehidupan malam supaya mereka bisa kabur dari realitas hidup? Berapa banyak lesbian yang harus mati karena bunuh diri? Menurut data, bunuh diri pada grup remaja homoseksualitas memiliki rangking yang memprihatinkan. Berapa banyak lesbian yang terpenjara dalam dunia yang tidak mereka kehendaki hanya karena mereka pikir itulah yang layak mereka dapatkan? Berapa banyak lesbian yang tidak memedulikan masa depan hanya karena mereka menganggap masa depan selalu suram? Berapa banyak lesbian yang miskin spiritual, membenci Tuhan karena merasa diri mereka kotor dan berdosa?
Dalam era teknologi ini, blog dan situs web memberikan ruang yang menjadi wadah bagi mesin penggerak untuk memberi harapan itu. Tulisan-tulisan tentang kebaikan menjadi kebaikan bagi satu orang dan terus berkembang kepada orang lain. Pengalaman hidup yang berharga bagi satu orang menjadi penguatan bagi orang lain. Kisah hati yang terbuka juga meruntuhkan gembok hati orang lain dan membukakan hati yang satu lagi. Semua warisan kisah-kisah para lesbian menjadi haru biru bagi lesbian lain dan menyentuh lubuk hati terdalam lesbian satunya lagi. Inilah yang bernama movement, atau gerakan. Satu gerakan kecil ini ibarat kita melemparkan batu ke air yang tenang. Riaknya akan bergerak hingga ke ujung pantai. Satu orang bisa membuat perubahan, satu orang bisa menggerakkan manusia lain, satu orang bisa membuat timbangan jadi berbeda. Dan satu orang itu mungkin kamu.
@Alex, SepociKopi, 2009
Labels: #Alex, Hot From The Kitchen, Renungan, Thoughts









